Minggu, 23 September 2007

Pembahasan Desain Grafis pada Kemasan

Dari artikel sebelumnya, kami dapat mengatakan bahwa desain kemasan jamu sehat JAKULA ini sudah memenuhi syarat-syarat desain grafis yang baik. Di balik desain estetisnya yang sederhana, desain ini cukup komunikatif dan informatif pada masyarakat jaman itu. Yang perlu diingat adalah sekitar tahun 1979-an (tahun perkiraan jamu ini mulai diproduksi) konsumen Indonesia sebagian besar belum mengenal huruf sehingga ilustrasi pada label jamu sangat membantu konsumen untuk mengerti kegunaan dari produk ini. Image obat kuatnya berhasil tersampaikan melalui ilustrasi pria berotot pada label jamu sehat JAKULA.

Jamu ini juga kami simpulkan sebagai produk yang cukup berhasil dari segi penjualan karena produk ini masih bisa bertahan sampai abad modern ini, bahkan diekspor ke Malaysia(menurut website PT.Tenaga Tani Farma, Produsen Jakula). Hal ini tentunya tidak terlepas dari desain label yang merupakan salah satu media promosi.

Dari segi grafis, warna cukup kontras dengan background. Jenis tulisan mudah terbaca, teks yang ditampilkan juga sudah jelas, singkat, mudah terbaca dan kami nilai menyatu dengan desain keseluruhan.

Dari segi warna, warna merah ternyata merupakan simbol kejantanan, sesuai dengan fungi produk yang dijual. Di artikel tersebut juga disebutkan bahwa warna merah disukai Sumatera Utara. Kemungkinan warna ini juga disukai di Aceh mengingat letak geografis yang berdekatan dengan Sumatera Utara.

Bibliography: Pirous, AD. 2007. Desain Grafis pada Kemasan. Retrieved 22 September 2007 from Desain Grafis Indonesia http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2007/06/25/desain-grafis-pada-kemasan/

Desain Grafis pada Kemasan

Kami menemukan sebuah artikel yang cukup menarik yang membahas mengenai DESAIN GRAFIS PADA KEMASAN. Pembahasannya akan kami tampilkan dalam posting berikut.

Desain Grafis pada Kemasan

drs. AD Pirous MA


APA ITU DESAIN GRAFIS
Desain merupakan seluruh proses pemikiran dan perasaan yang akan menciptakan sesuatu, dengan menggabungkan fakta, konstruksl, fungsi dan estetika, untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Desain adalah suatu konsep pemecahan masalah rupa, warna, bahan, teknik, biaya, guna dan pemakaian yanq diungkapkan dalam gambar dan bentuk.

Kegiatan desain mencakup berbagai bidang, seperti bidang produksi, tekstil, interior, mebel, benda-benda pakai dan segala macam penciptaan benda yang membutuhkan paduan artistik fungsionil dan ekonomis dari yang mempergunakan teknologi rendah sampai dengan yang mempergunakan teknologi tinggi.

Demikian pula dalam bidang desain grafis masalahnya akan menyangkut teknik perencanaan gambar, bentuk, simbol, huruf, fotografi dan proses percetakan, yang disertai pula dengan pengertian tentang bahan dan biaya.

Tujuan utama desain grafis, tidak saja menciptakan desain atau perencanaan fungsional estetis, tetapi juga yang informatif dan komunikatif dengan masyarakat. Bila dilengkapi dengan pengertian psikologi massa, dan teori-teori pemasaran (ekonomi), maka karya-karya desain grafis ini dapat merupakan alat promosi dengan yang sangat ampuh.

Sekarang apa yang kita kenal sebagai dunia desain grafis mencakup bidang kegiatan yang semakin luas, mencakup semua aspek komunikasi melalui bentuk visual mulai dari penciptaan logo (trade mark), perencanaan dan pembuatan buku berikut wajah kulit, ilustrasi dan tipografinya, perencanaan wajah kalender, grafis untuk segala bentuk kemas, desain huruf untuk arsitektur, semua keperluan barang cetakan untuk sebuah hotel, tata huruf judul film dan TV, poster, film kartun, animasi untuk film iklan, grafik-komputer, barang cetakan untuk pelayanan masyarakat lewat benda pos, surat kabar, majalah, sampai dengan rambu lalu-lintas dan sebagainya. Tegasnya semua kebutuhan informasi visuil, yang perlu dikomunikasikan dari seseorang kepada yang lain atau bahkan yang dikomunikasikan secara massal, menjadi bidang kegiatan perencanaan grafis. Hal ini sesuai dengan tuntutan hidup effektif yang selalu membutuhkan informasi yang cukup dan baik.

PERENCANAAN SEBUAH KEMASAN
Kemasan adalah pelindung dari suatu barang, baik barang biasa mau pun barang-barang hasil produksi industri. Dalam dunia industri kemasan merupakan pemenuhan suatu kebutuhan akibat adanya hubungan antara penghasil barang dengan masyarakat pembeli. Untuk keperluan ini kemasan harus dapat menyandang beberapa fungsi yang harus dimilikinya seperti:
- tempat atau wadah dalam bentuk tertentu dan dapat melindungi barang dari kemungkinan rusak, sejak keluar dari pabrik sampai ke tangan pembeli, bahkan masih dapat digunakan sebagai wadah setelah isi barang habis terpakai, (dalam hal ini wadah tersebut masih menyandang fungsi iklannya).

Kemasan bukan hanya sebuah bungkus, tapi juga pelengkap rumah tangga; sebush botol kecap bagus dengan etiketnya yang menarik dapat menyemarakkan suasana tertentu di meja makan atau lemari di dapur; sebuah tempat kertas lap “Klenex” yang didesain menarik dapat memperindah kamar mandi dan botol parfum yang cantik memberikan kekhasan meja berhias seorang gadis.

- mutu kemasan dapat menumbuhkan kepercayaan dan pelengkap citradiri dan mempengaruhi calon pembeli untuk menjatuhkan pilihan terhadap barang yang dikemasnya (bungkus rokok yang berwibawa).

- kemasan mempunyai kemudahan dalam pemakaiannya (buka, tutup, pegang, bawa) tanpa mengurangi mutu ketahanannya dalam melindungi barang.

- rupa luar kemasan harus sesegera mungkin menimbulkan kesan yang benar tentang jenis isi barang yang dikemas.

- perencanaan yang baik dalam hal ukuran dan bentuk, sehingga efisien dan tidak sulit dalam hal pengepakan, pengiriman serta penempatan, demikian pula penyusunan dalam lemari pajang.

- melalui bentuk dan tata rupa yang dimilikinya kemasan berfungsi sebagai alat pemasar untuk mempertinggi daya jual barang. Dalam fungsi ini desain bentuk-kemasan harus mendapat dukungan penuh dari unsur desain-grafisnya, sehingga bentuk kemasan selain menarik harus dapat menyampaikan keterangan dan pesan-pesannya sendiri.


Mengingat konsumen Indonesia yang sebagian besar masih terbatas kemampuan melek hurufnya, maka sampai dengan pertengahan abad ini kita masih melihat bahasa gambar sangat banyak dipergunakan di samping bahasa warna dan huruf. Hal ini, dibuktikan dalam desain-desain merek-dagang, etiket kemasan, serta penggunaan warna untuk memperkuat identitas produk tersebut.

Di samping itu sejalan dengan keterbatasan kemampuan visual dan logika, lahir pula gambar-gambar dan nama-nama sederhana dari benda yang sangat dikenal dalam kehidupan kita sehari-hari, yang oleh industri rokok yang dipilihkan seperti: Djambu Bol, Djeruk, Sapi, Carok, Upet, Pompa, Sugu, Tang, Djarum, Gudang Garam dan sebagainya.

Suatu waktu pabrik rokok kretek Djarum, pernah memproduksi rokok kretek dengan beberapa jenis rasa yang dibedakan dari warna bungkus. Djarum Coklat, Djarum Merah, Djarum Kuning (antara tahun 1950-1960). Semua desain, tipe huruf, dan ukuran sama, kecuali warna dasarnya yang berbeda; jadi di sini ditekankan penggunaan warna. Kemudian, nama-nama aneh muncul dalam gaya seperti ini, sekadar untuk menghindarkan persamaan nama di Lembaga Pencatatan Paten.

Sebuah contoh: Gambar buaya sudah ada pada Lembaga Pencatatan Paten, maka seseorang tidak dapat mempergunakan logo yang sama untuk keperluan desain logo baru. Lalu jalan keluarnya, dia menambahkan kata baru di samping kata buaya, lalu mendaftarkan diri dengan merek “Buaya Gunung”; gambarnya adalah buaya dan gunung (Penelitian Wiyanto, skripsi merek Dagang di Indonesia tahun 1961-1962). Kesederhanaan cara melihat yang berasal dari logika bentuk sering terjadi, karena itu tidak mengherankan bila korek api Jonko ping Tandstick Fabriek, yang bergambar medali atau mata uang di pasar lebih dikenal dan dinamakan “Korek api cap Balon”; apa yang paling segera terlintas difikirkan dan mudah diingat.

Keberhasilan pemasaran suatu barang, tidak hanya ditentukan oleh mutu barang serta usaha promosi yang dilakukan, tetapi juga dalam upaya yang sama oleh mutu dan penampilan kemasan itu sendiri.

Untuk kenyataan ini kita kenal filsafat pemasaran yang sudah lazim sejak abad ke 19 di Inggris “the product is the package”, barang produk ditentukan oleh kemasannya sendiri. Kesadaran akan kemasan adalah bahagian yang tak terpisah dari barang produk, sehingga tidak mengherankan bila sebuah biro perencanaan grafis bersikap “Kami tak dapat menaikkan mutu barang produk, karena itu kami tingkatan kemasannya”.

Karena itu mutu lain dari sebuah kemasan dinilai dari kemampuannya dalam memenuhi fungsi, di mana kemasan dituntut untuk memiliki daya tarik yang lebih besar daripada barang yang dibungkus di dalamnya. Keberhasilan daya tarik kemasan ditentukan oleh estetik yang menjadi bahan pertimbangan sejak awal perencanaan bentuk kemasan, karena pada dasarnya nilai estetik harus terkandung dalam keserasian antara bentuk dan penataan desain grafis tanpa melupakan kesan jenis, ciri dan sifat barang yang diproduksi.

UNSUR DESAIN GRAFIS
Bahasa desain grafis adalah bahasa visual, bahasa simbol yang diungkapkan melalui gambar, bentuk, warna dan aksara. Grafis harus dapat mengantarkan pesan yang ingin disampaikan oleh produsen barang lewat kemasan yang diciptakan; baik informasi mengenai isi maupun penjelasan mengenai cara pemakaian produk tersebut. Pemilihan tipe huruf yang berkarakter sesuai dengan jenis barang, dipadu saling menunjang dengan gambar ilustrasi yang tepat dan dicetak dengan teknik percetakan yang baik, akan membawakan pesan yang langsung ataupun yang tidak langsung dari barang tersebut terhadap kualitas dan nilainya. Gambar dan tulisan (teks), tidak saja penting sebagai daya tarik tetapi terutama cergas untuk berkomunikasi dengan konsumen tentang keterangan-keterangan yang diinginkan. Teks haruslah jelas, singkat, benar, mudah terbaca dan menyatu dengan desain keseluruhan.

Mempertimbangkan tata tertib desain sangat membantu untuk menghindarkan kesan desain yang kacau balau. Ketiga unsur grafis, gambar, huruf dan warna haruslah dapat menampilkan dirinya secara saling tenggang dan saling tunjang. Bentuk huruf nama produk yang seharusnya tampil utama, tidaklah layak diganggu oleh penggunaan warna-warna kontras yang menyilaukan, sebab warna yang keras hanya dapat berteriak, tapi tidak menyampaikan pesan. Gambar ilustrasi yang berkelebihan akan menenggelamkan pesan informasi tertulis yang juatru lebih penting. Teks yang dicetak dengan warna kuning atas dasar hitam akan sangat jelas terbaca, sebaliknya tulisan biru atas dasar merah akan bergerak memusingkan mata, dan warna kuning muda atas putih akan tidak terbaca. Demikian pula penggunaan bentuk huruf kecil akan lebih mudah dan enak dibaca dari pada huruf besar, dan pemilihan tipe huruf yang sederhana akan lebih menguntungkan dari pemakaian huruf yang dekoratif yang mungkin akan lebih indah tapi sukar terbaca.

Memperhitungkan tinggi dan tebal huruf yang seimbang, dan jarak spasi antara huruf lebih besar dari tebal huruf itu sendiri, sehingga semua pesan yang tertulis sangat mudah terbaca. Hindarkanlah kesan pada konsumen, sehingga seakan-akan kemasan itu berusaha menyembunyikan sesuatu. Dalam pemakaian teks, gunakanlah kata-kata yang mudah dimengerti, tidak terlalu panjang, tidak berarti ganda, karena kecenderungan konsumen adalah selalu mencari produk yang praktis dan bermanfaat yang kemudian baru mempertimbangkan soal harga.

Mengenai gambar atau ilustrasi dapat diungkapkan melalui gambar tangan ataupun melalui fotografi atau keduanya. Fungsi utama dari ilustrasi ini adalah untuk informasi visual tentang produk, pendukung teks, tentang penekanan suatu kesan tertentu atau sebagai penangkap mata untuk menarik calon pembeli untuk membaca teks. Berdasarkan kegunaannya, ilustrasi dengan gambar pada kemas dapat ditampilkan berupa barang produknya secara penuh atau gambar detailnya ataupun gambar yang berupa hiasan, atau ornamen yang simbolis saja.

Ilustrasi melalui gambar fotografi sering digunakan untuk meyakinkan kualitas isi barang; karena lebih menampilkan kenyataan benda tersebut. Hal ini terutama sering dipakai pada kemasan barang makanan. Dengan fotografi lebih mampu menggambarkan bahan dasar alami dari isi produk tersebut (sayur segar, buah-buahan, daging, ikan dan lain-lain).

Demikian pula dapat menunjukkan hasil yang bisa diperoleh dengan menggunakan produk tersebut (sop dengan kuah yang lezat, nasi goreng, kueh yang merangsang selera).

Cara yang sama dapat digunakan untak bidang kosmetik yang menampilkan wajah cantik, paras ayu dengan kulit halus yang lembut; atau rambut rapih yang anggun.

Bahkan lebih jauh dalam bungkus jamu Cap Djago, dipasang tokoh terkenal seperti Titik Puspa dan Mus Mualim, atau bintang terkenal lainnya. Hal ini semata dengan upaya untuk mencitrakan diri terhadap sesuatu yang membanggakan.

Warna adalah hal yang sangat penting dalam komunikasi dengan konsumen. Sehubungan dengan warna pada perencanaan grafis kemasan dapat dirasakan kegunaannya dalam beberapa sudut yang saling berkaitan. Yang sudah jelas kita mengenal 2 penggolongan warna, yaitu warna panas (merah, jingga, kuning) dan warna dingin (hijau, biru dan ungu).

Dari sudut kejiwaan warna panas dihubungkan dengan sikap spontan, meriah, terbuka, memacu gerak dan menggelisahkan, yang disebut “extroverted colour”, sedang warna dingin dihubungkan dengan sikap tertutup sejuk, santai, penuh pertimbangan dan disebut “introverted colours”. Kalau warna merah dianggap warna jantan, lambang darah yang mengalir di dalam tubuh, warna jingga mengesankan bersih, membangkitkan selera, ramah dan hangat. Kuning penuh gairah, ceria dan terang, merah jambu mengesankan kewanitaan dan warna hijau melambangkan suatu yang tumbuh dan harapan, sedangkan warna biru memberikan rasa tenang. Bila hijau membangkitkan ketenangan di bumi, maka biru memberikan kesunyian di langit.

Kecenderungan potensi dari warna ini tentunya dapat diterapkan dengan baik dalam pembuatan kemasan. Untuk menjelaskan kekuatan warna, pandangan dari segi psikologi mengemukakan, bahwa warna lebih dekat hubungan kepada emosi daripada kepada bentuk, sehingga pada sebuah kemasan warna tampil lebih awal dibandingkan dengan bentuk kemasannya dan untuk ini tidak begitu diperlukan pertimbangan-pertimbangan pengamatan.

Dapat kita bayangkan persaingan ketat yang akan dihadapi oleh sebuah produk dengan kemasnya pada sebuah rak pemajangan produk sejenis lainnya yang berpuluh-puluh jumlahnya. Bagi kemasan yang mempergunakan unsur grafis dan warna dengan lebih seksama tentu akan tampil sebagai pemikat utama bagi calon pembeli. Apalagi bila disadari bahwa daya ingat manusia terhadap bentuk lebih lamban dibanding terhadap warna dan orang dapat lupa terhadap nama sebuah produk tapi sukar lupa terhadap warna kemasnya. Sebagai contoh hal ini jelas terlihat pada kemasan film, Kodak (kuning), Fuji Color (hijau), Corned beef Cip/Pronas dan sardencis (merah), Sari Ayu (coklat tua), Mustika Ratu (merah tua).

Penerapan warna terhadap kemasan dapat pula dipertimbangkan dari sudut cerapan warna terhadap cerapan cecap. Dari sebuah angket terbatas mengenai pengaruh warna terhadap cecap (taste) yang dilakukan di antara ibu rumah tangga di Bandung, dapat diambil kesimpulan, bahwa warna merah memberikan cecap manis yang tertinggi, warna kuning memberikan cecap asam yang tertinggi warna biru terang dengan putih memberikan cecap asin dan warna merah-gelap dan hitam memberikan cecap pahit (penelitian Baby Ahnan, Skripsi “Sebuah Penelitian Jelajah Mengenai: Kemungkinan Timbulnya Cerapan Cecap/Akibat Cerapan Warna” Tahun 1983. Kesimpulan ini tentu dapat dipakai sebagai titik tolak pewarnaan kemasan khusus untuk makanan dan minuman di Indonesia.

Seterusnya mengenai masalah warna dalam kaitan selera publik konsumen dapat pula kita catat beberapa hal seperti :

- Warna anggun, canggih (sophisticated), kurang cocok untuk warna kosmetik yang dipasarkan di golongan masyarakat menengah ke bawah. Yang lebih disukai adalah warna cerah, yang agak meriah.

Menjua1 radio dengan warna merah, hijau, atau biru muda akan lebih mudah di daerah pedesaan.

Demikian pula warna bungkus rokok untuk masyarakat menengah ke bawah sebaiknya dengan warna lebih ceria. Sedangkan warna untuk bungkus rokok kretek Filtra yang kemasan cocok untuk kalangan orang bisnis, atau mencerminkan tingkatan sosial tertentu, dan rokok Djarum Super merah-hitam sesuai untuk golongan pemuda yang berjiwa muda atau romantis; apalagi bila didukung oleh kampanye iklan yang agak berbau erotis. Demikian pula untuk beberapa rokok cap tertentu di Indonesia yang pemasarannya di antara konsumen kelas bawah, terdapat keserasian tertentu dalam warna yang dipakai sesuai dengan daerah khas tertentu.

Untuk daerah Sumatera Utara disukai warna kuning pinang masak (chrome) atau warna merah; dan di daerah Jawa dengan warna merah, kuning lemon dan biru tua. Sebagai contoh, rokok Commodore berwarna bungkus merah dipasarkan di Medan dan sekitarnya; demikian pula rokok cap Galan dan Panamas yang konsumen terbesarnya di Sumatera.

Sehubungan dengan warna, dapat pula ditelusuri bahwa suatu jaman kadang-kadang mempunyai satu kecenderungan selera. Untuk generasi yang dibesarkan di sekitar Perang Dunia II, selera warnanya lebih tenang, mengungkapkan warna teduh, nyaris muram. Karena itu lahir satu gerakan kelompok pelukis yang tampil dengan warna-warna cemerlang di Eropah sebagai reaksi terhadap situasi tadi, di antaranya pelukis Josef Albers, Vasarely.

Selera lesu dari era ini diungkapkan dalam cita rasa warna berpakaian dan interior ruang dengan warna pastel abu-abu, kuning gading pucat, atau oker pudar.

Tapi pada generasi berikutnya yang dibesarkan pada masa kebudayaan Pop (Pop Culture), mereka lebih gandrung terhadap warna ceria, kontras, riang dan meriah. Secara psikologis dapat dihubungkan dengan masa “pembangunan” yang kurang mengalami kesukaran, suasana dunia yang lebih damai, terbuka; optimistis. Karena itu warna kemas saat ini umumnya lebih terang dan gembira.

KEMASAN UNTUK EKSPOR
Pada umumnya di Indonesia sampai dengan saat ini masih hidup dengan baik desain kemasan yang tradisionil (baik desain grafisnya maupun bahan yang dipergunakan) di samping desain kemas yang modern, yang pembuatannya didasarkan kepada konsep pemikiran yang modern juga. Bila kita masuk ke sebuah toko barang makanan kecil yang menjual makanan kering seperti jenis krupuk, kacang-kacangan, dodol, kueh kering, tauco, oncom, seperti toko-toko yang terdapat di jalan raya bypass kota Cianjur, maka kita akan temukan sebagian besar barang makanan itu dikemas dalam keadaan sederhana, baik bentak maupun grafisnya. Kemasan yang sebagian besar untuk hasil industri rumah ini, rupanya masih punya tempat dan akrab dengan konsumennya.

Di samping itu di kota-kota besar, terlihat suatu keadaan lain, sebagai hasil perkembangan pasar dan toko setelah tahun 1986 (era orde baru). Seperti kita ketahui roda ekonomi Indonesia mulai bergerak setelah tahun 1966, di mana penanaman modal asing di berbagai bidang, seperti pendirian industri/pabrik, makanan, obat-obatan, pakaian, elektronik, sampai kepada perakitan kendaraan. Pusat-pusat perbelanjaan makin banyak, di samping toko serba ada dan supermaket yang mewah.

Kehadiran toko-toko mewah ini merangsang lahirnya bentuk kemasan baru dari barang produksi dalam negeri. Sifat penjajaan barang di supermaket yang di antaranya setiap barang harus melayani dan menual dirinya sendiri, mendorong para produsen untuk menciptakan produk dengan kemasan yang sesuai. Barang-barang yang dijajakan di sebuah pasar syawalan akan diletakkan sesuai kelompok jenisnya. Sehingga kita akan mudah mendapat jenis barang tersebut sekaligus dengan berbagai ragam, merek, harga, tanda-niaga, isi, penjelasan dan tawaran cita rasanya. Barang produk tersebut tiba-tiba tenggelam ke dalam satu pertarungan yang sengit untuk dapat memenangkan perhatian pembeli. Pertarungan barang tersebut, adalah pertarungan perancangan bungkusnya, karena itu ini adalah pertarungan ilmu merancang kemasan. Untuk menentukan pilihan konsumen harus aktif. Suasana akan berlainan sekali, bila anda berbelanja di satu warung di pasar Inpres di mana pelayan warung akan mengejar anda dengan berbagai informasi dan menggoda anda untuk membeli barang tersebut; dan anda cukup dengan sikap pasif saja.

Seiring dengan derap kemajuan ekonomi kita, telah pula dimulai menggiatkan ekspor barang-barang produksi dalam negeri ke berbagai negara. Upaya ini tentunya harus didukung oleh mutu barang dan sekaligus mutu kemasannya yang berwibawa dan berdaya jual. Mengenai perencanaan kemasan ekspor ini dapatlah dicatat beberapa yang seyogyanya layak menjadi bahan pertimbangan bagi para produsen dan perencana grafis Indonesia.

- Beberapa bentuk kemasan berikut grafisnya dari sebuah barang yang diproduksi untuk pasar luar negeri sebaiknya tidak dibuat sama seperti yang dipasarkan untuk dalam negeri.

- Peka dan faham terhadap berbagai ragam kebudayaan dunia sangat penting dalam memperhitungkan desain kemas untuk ekspor. Hal ini didasari oleh adanya faktor lingkungan setempat yang harus dipertimbangkan. Sebagai contoh dapat diteliti apa yang dilakukan oleh sebuah perusahaan perencanaan dan konsultan untuk marketing dan komunikasi di San Francisco USA “Walter Landor Asoociates. Perusahaan ini telah mempekerjakan desainer dari berbagai bangsa, sesuai dengan kepentingan perencanaan barang untuk berbagai negara yang dituju seperti Jepang, Itali, Jerman, bahkan Inggris. Kemasan untuk ekspor adalah hal yang sangat khas karena itu sebaiknya ditangani oleh desainer dari negara tujuan ekspor yang bersangkutan dan bekerjasama dengan perencana Indonesia.

- Lazimnya kemasan yang akan dipasarkan telah melalui hasil riset di atas dan uji lapangan yang mendalam, baik dalam bentuk dan bahan kemasan maupun desain grafisnya, mengingat tingginya fakta perbedaan iklim, bahasa, kemampuan membaca, syarat perdagangan, pajak, lalu lintas pengiriman dan lain-lain.

- Setiap barang produk yang akan diekspor, haruslah juga melengkapi desain kemasannya dengan persyaratan kode komputerisasi yang telah dipakai di mana-mana, untuk memudahkan penghitungan harga.

- Harus pula mempertimbangkan penggunaan unsur simbolisme yang diucapkan melalui bentuk dan warna. Dapat dibayangkan kebijaksanaan bagaimana yang akan diambil, bila akan merencanakan kemasan kita untuk diekspor, muncul masalah warna dan gambar sebagai berikut:

- Warna “merah”, sangat disukai di Itali, Singapura, Yugoslavia, Meksiko, dan bagi orang Amerika merah adalah warna yang bersih, sedang bagi bangsa Inggris, Chili, Guatemala, Belanda, Venezuela dan Swedia termasuk warna yang kurang disukai.

- Warna “biru” disukai di Inggris, dianggap warna maskulin di Swedia, tapi feminin di Belanda.

- Warna “kuning” dan “emas”, disukai sekali oleh negara-negara di Asia seperti Jepang, Malaysia, Filipina, Burma, Ceylon, Singapura dan Hongkong.

- Warna “hijau”, dianggap sebagai warna yang serasi dan sejuk oleh bangsa Amerika, Iran, Irak, Sudan, Jordania, India, Pakistan, dan bagi bangsa Arab malah dianggap sebagai warna suci yang kurang bijaksana untuk dipakai sebagai warna kemas.

- Warna “hitam”, hampir semua bangsa seperti Amerika, Afrika Selatan, Tunisia, Afganistan, India, Saudi Arabia, Vietnam, Hongkong, Perancis, Jerman, Denmark, dan Australia merasa kurang cocok, tetapi di Spanyol malah banyak dipakai untuk kemasan makanan.

Demikian pula mengenai masalah “gambar”,

- Gambar Harimau, Singa, Naga dan Gajah, disenangi di RRC, Taiwan, dan Hongkong, sedang gambar gajah tidak disukai di Tahiti

- Bagi Singapura dan Malaysia, mereka kurang dapat menerima gambar ular, babi, sapi dan kura-kura.

- India anti terhadap gambar sapi dan anjing, tapi suka kepada gambar monyet.

- Swiss akan peka sekali terhadap bentuk palang merah atau palang putih atas dasar merah.

- Saran khusus yang penting dihayati oleh para produsen dan pendesain kemasan Indonesia adalah agar menempatkan persoalan pengemasan ini, tidak saja sebagai faktor ekonomis yang berhubungan dengan peningkatan pemasaran barang saja, tetapi juga sebagai faktor kulturil yang membawa citra wibawa bangsa. Suatu contoh yang dapat kita tiru adalah apa yang telah dilakukan oleh Jepang terhadap seni pengemasan barang produk mereka. Seluruh nafas keseni-rupaan Jepang dapat terpancar pada rancangan grafis kemasan barangnya; sebagai sebuah tontonan kesenian. Apakah kita layak mempunyai optimisme ke arah demikian, memang sangat tergantung kepada sikap dan keinginan kita sendiri.

Demikianlah secara singkat yang dapat disampaikan dalam kesempatan pembicaraan mengenai peranan desain grafis pada kemasan dan pada akhirnya ingin saya tekankan “Bila bentuk kemas itu hanya dapat melindungi isi barang yang dikemas, tapi desain grafisnya akan menjual barang tersebut kepada pembeli”

Sumber: Buku ”Simposium Disain Grafis” Fakultas Seni Rupa dan Disain Institut Seni Indonesia- Yogyakarta, dalam rangka Purna Bakti drs. R. Soetopo sebagai tenaga pengajar Fakultas Seni Rupa dan Disain, yang diselenggarakan pada tanggal 4 April 1989.

Bibliography: Pirous, AD. 2007. Desain Grafis pada Kemasan. Retrieved 22 September 2007 from Desain Grafis Indonesia http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2007/06/25/desain-grafis-pada-kemasan/

Perbandingan Label-label Jamu Kuat

The fantASIX mencoba untuk mencari perbandingan antara label-label jamu dan obat kuat yang ada di pasaran untuk diperbandingkan dengan label Jamu Jakula.

Berikut label-label tersebut:



"COBRA LAUT"








"CULA BADAK"








"GINSENG KUDA-LAUT"








"HORMOVITON"










"IREX"






"KUDA"








"KUKU BIMA"





"MA'JUN SEMANGAT"








"MACHO MAN"








"PASAMA"





"PILKITA"





"PRIA PERKASA"









"JAMU IBOE - SARI JAMU SEHAT PRIA"












"SEHAT PRIA"










"SING LUNG SAN"









"STRONGPAS"



Kesimpulan:

Gambar yang kebanyakan dipakai dalam label-label jamu/obat kuat yang lainnya adalah:
1. komposisi dari obat/jamu tersebut, misalnya: Cula Badak, Kuda Laut, ginseng (merk StrongPas), dsb
2. simbol maskulin, misalnya: Kuda, Sagitarius (pada Irex dan Pasama), simbol laki-laki (pada Hormoviton)
3. sosok laki-laki yang dianggap perkasa, misalnya: Bima (merk Kuku Bima), siluet dan gambar pria berotot (merk Sing Lung San dan Pria Perkasa), orang Arab (merk Ma'Jun Semangat)
4. sedikit saja yang hanya menggunakan logotype (Pilkita), gambar pria dan wanita yang sedang ber"aktivitas" (merk Macho Man), foto model yang sayangnya kurang meyakinkan menurut kami (merk Sehat Pria)

Sedangkan label Jamu JAKULA sendiri termasuk dalam kategori yang ketiga yang digambarkan dengan sosok pria berotot.

Kamis, 20 September 2007

Pembahasan Artikel Hubungan Sejarah Aceh dan Tiongkok

PEMBAHASAN ARTIKEL “HUBUNGAN SEJARAH ACEH DAN TIONGKOK”

Poin-poin penting yang kami dapat dari artikel tersebut adalah:
▪ Jadi jauh sebelum kerajaan Aceh Darussalam berdiri,
komunitas Tionghoa telah berada di Aceh sejak abad ke-13.
▪ Orang Aceh mendapatkan ilmu pembuatan meriam ini dari orang
Tionghoa. Demikian juga dengan
pertenakan sutera yang sudah dikuasai oleh orang Aceh yang
kemungkinan besar diperkenalkan oleh orang-orang Tionghoa.
▪ Pernah pada jaman Sultan Iskandar Thani ini orang Tionghoa
dikenakan larangan untuk tinggal di wilayahnya, karena dianggap
memelihara Babi. Pada jaman Iskandar Thani ini di ibukota kerajaan
telah dibangun sebuah taman yang dinamakan "Taman Ghairah", diceritakan
bahwa didalam taman itu telah dibangun sebuah "Balai Cina"
(paviliun) yang dibuat oleh para pekerja orang Tionghoa.
▪ Peranan orang Tionghoa dibidang perdagangan di Aceh diperkirakan
bertambah besar pada paruh kedua abad ke-17.
▪ Lonceng atau genta yang terkenal dan termasyhur (icon kota Banda
Aceh) di Aceh ini sekarang diletakkan di Musium Aceh, Banda Aceh.
Lonceng yang dibawa oleh Cheng Ho ini adalah pemberian Kaisar
Tiongkok, pada abad ke-15 kepada Raja Pasai.
▪ Pembangunan masjid Baiturrahman ini dilaksanakan oleh seorang
pemborong atau kontraktor Tionghoa yang bernama Lie A Sie.. Para pekerjanya-pun hampir
sebagian besar terdiri dari pekerja orang Tionghoa
▪ Jaman Orba (Suharto) adalah masa-masa yang gelap dalam sejarah
komunitas Tionghoa di Aceh. Pada 8 Mei 1966, Pangdam Aceh Brigjen
Ishak Djuarsa (orang Sunda, bukan Aceh) mengumumkan untuk mengusir
semua warga Tionghoa dari Aceh sebelum 17 Agustus 1966
▪ demo-demo anti Tionghoa sampai sekarang tidak
cukup untuk mematahkan dominasi Tionghoa dalam perekonomian setempat
▪ Akibat
sentimen anti Tionghoa yang keras pada saat itu banyak warga Tionghoa
meninggalkan Aceh
sekitar 60% pertokoan di Banda Aceh milik warga
Tionghoa). Tidak semua warga Tionghoa itu ekonominya berkecukupan
atau kaya di Banda Aceh, warga Tionghoa yang miskin-pun dapat
dijumpai disana
▪ Aceh
dikenal dengan singkatan sebagai (A)rab, (C)ina, (E)ropah, (H)
industan atau India.


Kesimpulan:
Aceh sejak jaman dahulu kala (sekitar abad ke-13) telah menjadi rumah bagi komunitas Tionghoa dan seiring dengan berjalannya waktu masyarakat Tionghoa telah memberi banyak sumbangan dan memegang peranan yang cukup penting dalam berbagai aspek kehidupan (terutama aspek ekonomi) masyarakat Aceh.

Fakta bahwa masyarakat Tionghoa telah ada sejak lama di Aceh juga menimbulkan kemungkinan yang sangat besar akan adanya percampuran budaya baik berupa asimilasi maupuan akulturasi dengan budaya setempat.

Meskipun sempat beberapa kali mengalami berbagai hal yang tidak menyenangkan dari penduduk setempat, masyarakat Tionghoa tetap mampu bertahan, bahkan dapat dikatakan cukup mendominasi dalam perekonomian Aceh.

Oleh karena itu, sangatlah besar kemungkinan adanya pengaruh budaya Tionghoa dalam label jamu Jakula, bahkan mungkin pemilik dari Tenaga Tani Farma (produsen Jamu Jakula) berasal dari etnis Tionghoa.

Demikian kesimpulan yang kami peroleh dari artikel tersebut.

Bibliography: http://www.budaya-tionghoa.org/modules.php?name=News&file=print&sid=506

Hubungan Sejarah Aceh dan Tiongkok

Kemarin (Kamis, 19 September 2007), The Fantasix kembali melakukan penjelajahan di dunia maya untuk mencari keterangan mengenai desain dalam label Jamu Jakula. Dari penjelajahan kali ini, kami menemukan sebuah artikel yang cukup menarik yang dapat membantu kami lebih mengeri mengenai riwayat masyarakat Tionghoa di Aceh (Jamu Jakula berasal dari Aceh dan kami menduga bahwa rancangan labelnya terpengaruh oleh budaya Tionghoa).

Artikel ini kami dapat dari website Forum Budaya Tionghoa (www.budaya-tionghoa.org) dan di-post oleh xuan-tong dengan judul Komunitas Tionghoa dan Aceh setelah Pilkada. Sebelum kami membahas mengenai hal-hal yang kami peroleh dari artikel tersebut, kami akan menampilkan isi artikel tersebut dalam blog ini sebagai berikut.

Komunitas Tionghoa dan Aceh setelah Pilkada
Posted on Friday, January 05 @ 07:45:49 EST by xuan-tong

Belum lama berselang ada satu postingan didalam milis ini dari Halim
El Bambi(8 Desember 2006) , mengenai undangan dari Jurnal
Ilmiah "Seumikee" Aceh Institute, untuk menulis satu artikel tentang
Aceh, dan salah satu tema tulisannya adalah mengenai "Budaya dan
kesenian, misalnya kapan budaya Tionghoa masuk ke Aceh dst.". dan
ini adalah sesuatu ide yang baik dan positif untuk ditanggapi.
Tulisan-tulisan mengenai hal ini memang dirasakan masih sedikit
atau terbatas, walaupun komunitas Tionghoa dalam sejarahnya telah
berada di Aceh sejak ratusan tahun yang lalu.



Dan sehubungan dengan pelaksanaan Pilkada Aceh baru-baru ini, dan
Irwandi Jusuf terpilih sebagai calon gubernur pertama Nangroe Aceh
Darussalam, maka Aceh akan memulai babak sejarahnya yang baru.
Karenanya pembahasan ini menjadi relevan, sekurang-kurangnya suatu
ulasan sedikit mengenai sejarah dan peranan komunitas Tionghoa di
Aceh selama ini.


Hubungan sejarah Aceh dan Tiongkok

Catatan sejarah tertua dan pertama-tama mengenai kerajaan-kerajaan
di Aceh, didapati dari sumber-sumber tulisan sejarah Tiongkok. Dalam
catatan sejarah dinasti Liang (506-556), disebutkan adanya suatu
kerajaan yang terletak di Sumatra Utara pada abad ke-6 yang
dinamakan Po-Li dan beragama Budha. Pada abad ke-13 teks-teks
Tiongkok (Zhao Ru-gua dalam bukunya Zhu-fan zhi) menyebutkan Lan-wu-
li (Lamuri) di pantai timur Aceh. Dan pada tahun 1282, diketahui
bahwa raja Samudra-Pasai mengirim dua orang (Sulaiman dan
Shamsuddin) utusan ke Tiongkok.

Didalam catatan Ma Huan (Ying-yai sheng-lan) dalam pelayarannya
bersama dengan Laksamana Cheng Ho, dicatat dengan lengkap
mengenai kota-kota di Aceh seperti, A-lu (Aru), Su-men-da-la
(Samudra), Lan-wu-li (Lamuri).
Dalam catatan Dong-xi-yang-kao (penelitian laut-laut timur dan
barat) yang dikarang oleh Zhang Xie pada tahun 1618, terdapat sebuah
catatan terperinci mengenai Aceh modern.

Samudra-Pasai adalah sebuah kerajaan dan kota pelabuhan yang ramai
dikunjungi oleh para pedagang dari Timur Tengah, India sampai
Tiongkok pada abad ke 13 -16. Samudra Pasai ini terletak pada jalur
sutera laut yang menghubungi Tiongkok dengan negara-negara Timur
Tengah, dimana para pedagang dari berbagai negara mampir
dahulu /transit sebelum melanjutkan pelayaran ke/dari Tiongkok
atau Timur Tengah, India.

Kota Pasai dan Perlak juga pernah disinggahi oleh Marco Polo (abad
13) dan Ibnu Batuta (abad 14) dalam perjalanannya ke/ dari
Tiongkok. Barang dagangan utama yang paling terkenal dari Pasai
ini adalah lada dan banyak diekspor ke Tiongkok, sebaliknya banyak
barang-barang Tiongkok seperti Sutera, Keramik, dll. diimpor ke
Pasai ini. Pada abad ke 15, armada Cheng Ho juga mampir dalam
pelayarannya ke Pasai dan memberikan Lonceng besar yang tertanggal
1409 (Cakra Donya) kepada raja Pasai pada waktu itu.

Samudra Pasai juga dikenal sebagai salah satu pusat kerajaan Islam
(dan Perlak) yang pertama di Indonesia dan pusat penyebaraan Islam
keseluruh Nusantara pada waktu itu. Ajaran-ajaran Islam ini
disebarkan oleh para pedagang dari Arab (Timur Tengah) atau Gujarat
(India), yang singgah atau menetap di Pasai.

Dikota Samudra Pasai ini banyak tinggal komunitas Tionghoa, seperti
adanya "kampung Cina", seperti ditulis dalam Hikayat Raja-raja
Pasai. Jadi jauh sebelum kerajaan Aceh Darussalam berdiri,
komunitas Tionghoa telah berada di Aceh sejak abad ke-13. Karena
Samudra Pasai ini terletak dalam jalur perdagangan dan pelayaran
internasional serta menjadi pusat perniagaan internasional, maka
berbagai bangsa asing lainnya menetap dan tinggal disana yang
berkarakter kosmopolitan dan multietnis.

Tome Pires menyebutkan bahwa kota Pasai adalah kota penting yang
berpenduduk 20.000 orang. Pada tahun 1524 Samudra Pasai ditaklukan
oleh Sultan Ali Mughayat Syah dari kerajaan Aceh Darussalam dan
sejak itu Samudra Pasai merosot dan pudar pamornya untuk
selamanya.

Puncak kejayaan Kerajaan Aceh Darussalam adalah ketika pada jaman
Sultan Iskandar Muda (1607-36), Aceh pada waktu jaman Iskandar Muda
ini adalah negara yang paling kuat diseluruh Nusantara. Ia
meluaskan wilayah kekuasaannya dan memerangi Portugis, Kesultanan
Johor, Pahang dll. Aceh juga merupakan sebuah negara maritim dan
sebagai salah satu pusat perdagangan internasional. Banyak pedagang
asing singgah dan menetap di Aceh, seperti dari Arab, Persia, Pegu,
Gujarat, Jawa, Turki, Bengali, Tionghoa, Siam, Eropah dll.

Di kota kerajaan ini (Banda Aceh sekarang), banyak dijumpai
perkampungan-perkampungan dari berbagai bangsa, seperti kampung
Cina, Portugis, Gujarat, Arab, Pegu, Benggali dan Eropah lainnya.
Kota Aceh ini benar-benar sebuah kota kosmopolitan yang berkarakter
internasional dan multietnis. Seperti di Samudra Pasai, Aceh juga
banyak menghasilkan Lada yang diekspor ke Tiongkok.

Pada waktu itu orang Aceh juga telah menguasai pembuatan atau
pengecoran pembuatan Meriam dan tidak semua meriam di Aceh adalah
buatan luar negeri (seperti meriam buatan Turki atau Portugis).
Orang Aceh mendapatkan ilmu pembuatan meriam ini dari orang
Tionghoa (Kerajaan Aceh, Denys Lombard). Demikian juga dengan
pertenakan sutera yang sudah dikuasai oleh orang Aceh yang
kemungkinan besar diperkenalkan oleh orang-orang Tionghoa.

Pengganti Sultan Iskandar Muda adalah mantunya sendiri yang bernama
Sultan Iskandar Thani (1636-41). Periode pemerintahan Iskandar
Thani ini adalah awal dari kemerosotan Kerajaan Aceh Darussalam,
periode pemerintahannya juga sangat singkat. Iskandar Thani tidak
melakukan politik ekspansi wilayah lagi seperti mertuanya dan
lebih memusatkan kepada pengetahuan dan ajaran Islam.

Pernah pada jaman Sultan Iskandar Thani ini orang Tionghoa
dikenakan larangan untuk tinggal di wilayahnya, karena dianggap
memelihara Babi. Pada jaman Iskandar Thani ini di ibukota kerajaan
telah dibangun sebuah taman yang dinamakan "Taman Ghairah", seperti
yang dikisahkan dalam buku Bustan us-Salatin karangan Nuruddin ar-
Raniri(orang Gujarat,penasihat Sultan,ahli tasawuf). Diceritakan
bahwa didalam taman itu telah dibangun sebuah "Balai Cina"
(paviliun) yang dibuat oleh para pekerja orang Tionghoa.

Peranan orang Tionghoa dibidang perdagangan di Aceh diperkirakan
bertambah besar pada paruh kedua abad ke-17. Selain ada yang
tinggal dan berdagang secara permanen di ibukota Aceh ini, ada juga
pedagang musiman yang datang dengan kapal layar (10-12 kapal sekali
datang) pada bulan-bulan tertentu seperti pada bulan Juli. Kapal-
kapal (Jung) Tionghoa tersebut juga membawa beras ke Aceh (impor
beras dari Tiongkok). Mereka tinggal dalam perkampungan Cina dekat
pelabuhan , yang sekarang mungkin lokasinya disekitar "Peunayong"
(Pecinan Banda Aceh).

Bersama dengan kapal itu juga datang para pengrajin bangsa Tionghoa
seperti tukang kayu, mebel, cat dll. Begitu tiba mereka mulai
membuat koper, peti uang, lemari dan segala macam lainnya. Setelah
selesai mereka pamerkan dan jual didepan pintu rumah. Maka selama
dua atau dua bulan setengah berlangsunglah "pasar (basar) Cina" yang
meriah. Toko-toko penuh sesak dengan barang dan seperti biasanya
orang-orang Tionghoa ini tidak lupa juga untuk bermain judi seperti
kebiasaannya. Pada akhir September, mereka berlayar kembali ke
Tiongkok dan baru kembali lagi tahun depannya. Barang-barang dari
Tiongkok ini ada beberapa diantaranya diekspor ke India.(Kerajaan
Aceh, Denys Lombard)

Cakra Donya

Lonceng atau genta yang terkenal dan termasyhur (icon kota Banda
Aceh) di Aceh ini sekarang diletakkan di Musium Aceh, Banda Aceh.
Lonceng yang dibawa oleh Cheng Ho ini adalah pemberian Kaisar
Tiongkok, pada abad ke-15 kepada Raja Pasai. Ketika Pasai
ditaklukkan oleh Aceh Darussalam pada tahun 1524, lonceng ini dibawa
ke Kerajaan Aceh. Pada awalnya lonceng ini ditaruh diatas kapal
Sultan Iskandar Muda yang bernama `Cakra Donya " (Cakra Dunia)
waktu melawan Portugis, maka itu lonceng ini dinamakan Cakra Donya.

Kapal Cakra Donya ini bagaikan kapal induk armada Aceh pada waktu
itu dan berukuran sangat besar, sehingga Portugis
menamakannya "Espanto del Mundo" (teror dunia). Kemudian Lonceng
yang bertuliskan aksara Tionghoa dan Arab (sudah tak dapat dibaca
lagi aksaranya sekarang) ini diletakkan dekat mesjid Baiturrahman
yang berada dikompleks Istana Sultan. Namun sejak tahun 1915 lonceng
ini dipindahkan ke Musium Aceh dan ditempatkan didalam kubah hingga
sekarang (halaman Musium). Lonceng Cakra Donya ini telah menjadi
benda sejarah kebanggaan orang Aceh hingga sekarang. Lonceng ini
juga juga merupakan bukti dan simbol hubungan bersejarah antara
Tiongkok dan Aceh sejak abad ke-15.


Masjid Raya Baiturrahman

Masjid Baiturrahman dibangun oleh pemerintah Belanda sebagai
pengganti masjid yang sama namanya yang dihancurkan oleh Belanda
sebelumnya pada tahun 1874 . Jadi dalam rangka mengambil hati rakyat
Aceh, masjid ini dibangun kembali. Peletakan batu pertamanya pada
bulan Oktober 1879 dan selesai pada Desember 1881. Arsiteknya
adalah seorang Belanda yang bernama Bruins dari Departemen PU.
Bahan bangunannya banyak yang diimpor dari luar negeri seperti batu
pualam dari Tiongkok dan besi jendela dari Belgia.

Pembangunan masjid Baiturrahman ini dilaksanakan oleh seorang
pemborong atau kontraktor Tionghoa yang bernama Lie A Sie. Bukan
saja kontraktornya seorang Tionghoa, para pekerjanya-pun hampir
sebagian besar terdiri dari pekerja orang Tionghoa yang memiliki
ketrampilan khusus, karena bangunan konstruksi dan detailnya cukup
rumit. Orang Aceh yang diharapkan dapat bekerja disana ternyata
sangat mengecewakan bouwherrnya. (Sejarah Daerah Propinsi Daerah
Istimewa Aceh, , Depdikbud, 1991). Pada peristiwa tsunami tahun
2004, bangunan masjid ini berdiri dengan ajaib, kokoh dan tidak
mengalami kerusakan yang berarti, walaupun diterjang oleh pasang
air laut yang dahsyat.

Jaman Orba

Jaman Orba (Suharto) adalah masa-masa yang gelap dalam sejarah
komunitas Tionghoa di Aceh. Pada 8 Mei 1966, Pangdam Aceh Brigjen
Ishak Djuarsa (orang Sunda, bukan Aceh) mengumumkan untuk mengusir
semua warga Tionghoa dari Aceh sebelum 17 Agustus 1966. Akibatnya
sekitar 15.000 warga Tionghoa mengungsi dengan baju dan
perlengkapan seadanya mengungsi ke Medan. Mereka ditampung
dijalan Metal (kamp Metal), gudang tembakau, bekas sekolah Tionghoa
dan klenteng-klenteng. Hal yang sama dilakukan oleh Pangdam Jawa
Timur, Jenderal Soemitro ketika itu terhadap warga Tionghoa di Jawa
Timur.

Di kota Medan sendiri tembok-tembok penuh dengan coretan-coretan
seperti "Orang-orang Cina pulang ! dan sekali Cina tetap Cina !".
Di Medan-pun mereka masih diteror, seperti yang dikatakan oleh
Pangdam Sumtera Utara pada Oktober 1966, Brigjen Sobirin Mochtar
yang mengatakan bahwa demo-demo anti Tionghoa sampai sekarang tidak
cukup untuk mematahkan dominasi Tionghoa dalam perekonomian setempat
dan harus menolak atau menjual barang kepada orang Tionghoa serta
mengawasinya agar orang-orang enggan berbelanja kesana. Ormas Orba
seperti KAMI, KAPPI dan KENSI (pengusaha) Sumatera Utara juga
menuntut pemerintah untuk mengusir semua warga Tionghoa dari
Sumatera Utara dan Indonesia.

Ketika itu Tiongkok yang masih dalam kondisi kembang kempis dalam
negerinya sendiri, terpaksa mengirim kapal "Kuang Hua" untuk
menjemput warga Tionghoa yang diusir dari Aceh ini. Selama 4 kali
pelayaran, kapal Kuang Hua berhasil merepatriasi sebanyak 4000 orang
pengungsi Aceh dari Medan. Diberitakan bahwa kondisi kamp-kamp
pengungsian di Medan itu sangat buruk kondisinya, air untuk minum-
pun sengaja dikurangi hingga beberapa pengungsi harus minum dari
keran air WC yang disaring dan dikumpulkan.

Pada waktu itu orang-orang Tionghoa harus menolong dirinya sendiri,
karena tidak ada negara asing, badan sosial dunia , LSM, atau badan-
badan Internasional lainnya yang (mau) membantu. Pada jaman Orba
itu, banyak aset-aset komunitas Tionghoa diambil alih dan disita,
seperti misalnya gedung sekolah SMA Negeri 2 dan SMP 4 yang
sebelumnya adalah bekas sekolah Tionghoa di Banda Aceh. Demikian
juga dengan gedung di kawasan Pusong Lhokseumawe yang pernah menjadi
SMEA Negeri dan PGA Negeri, atau Gedung Ampera di Langsa yang juga
pernah menjadi SMEA dan Komisariat KAPPI di Aceh Timur. Akibat
sentimen anti Tionghoa yang keras pada saat itu (antitesis daripada
karakter dan tradisi orang Aceh), maka banyak warga Tionghoa
meninggalkan Aceh berpindah ke Medan, Jakarta atau kota-kota lainnya
di Sumatera atau Indonesia.

Tsunami

Pada peristiwa tsunami tahun 2004, banyak warga Tionghoa Aceh yang
menjadi korbannya dan meninggal. Sekitar 6000 orang Tionghoa telah
mengungsi ke Medan dan ditampung di kamp Metal. Di kamp pengungsian
Medan ini bukan hanya warga Tionghoa saja yang ditampung untuk
mendapatkan akomodasi dan perawatan, warga dari etnis lainpun
ditampung di kamp-kamp pengungsian tersebut, tanpa perbedaan..

Diperkirakan sekitar 1000 warga Tionghoa meninggal pada waktu
peristiwa tsunami itu yang kebanyakan bermukim di "Peunayong"
atau pusat perniagaan, perdagangan atau pecinan di Banda Aceh.
Mereka juga banyak yang mengeluh, bahwa toko-tokonya ada yang
dijarah ketika itu (sekitar 60% pertokoan di Banda Aceh milik warga
Tionghoa). Tidak semua warga Tionghoa itu ekonominya berkecukupan
atau kaya di Banda Aceh, warga Tionghoa yang miskin-pun dapat
dijumpai disana seperti mereka yang tinggal di Kampung Mulia dan
Kampung Laksana, yang tak jauh dari Peunayong.

Dan tidak semuanya warga Tionghoa dari Banda Aceh ini mengungsi ke
Medan, beberapa diantaranya tetap bertahan di Banda Aceh, seperti
sepasang suami istri pemilik toko kaca mata "Joy Optikal", dimana
separuh pelanggannya telah meninggal dunia. Pemilik toko Jay
Optikal, Maria Herawati berkata "Hidup atau Mati, saya akan tetap
tinggal di Aceh" (The Christian Science Monitor, February 18, 2005).

Kepedulian komunitas Tionghoa terhadap Aceh dapat dilihat juga
dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh berbagai organisasi
dan individu Tionghoa pada waktu pasca bencana tsunami dengan
memberikan bantuan yang dibutuhkan, termasuk juga warga Tionghoa
Indonesia yang bermukim di Amerika Serikat seperti ICCA (Indonesian
Chinese American Association) yang berkedudukan di Monterey Park,
California serta Organisasai-organisasi Tionghoa lainnya dari
Singapore, Malaysia dan Taiwan juga datang memberikan bantuan.

Pemerintah Tiongkok-pun telah mengirimkan 353 kontainer berisi bahan
bangunan untuk membangun sekolah di Aceh. Bantuan dengan berat
total 7000 ton itu akan dipakai untuk membangun 60 sekolah yang
masing-masingnya terdiri dari 15 kelas. Bantuan ini diberikan sesuai
dengan permintaan pemerintah Indonesia. Selain itu Dubes Tiongkok
untuk Indonesia , Lan Li Jun, mengatas namakan sumbangan dari rakyat
Tiongkok, memberikan sumbangan 12 juta dolar lebih untuk membangun
pemukiman baru dengan 660 unit rumah tipe 42 di Desa Neuheuen,
kabupaten Aceh Besar. Selain perumahan yang dibangun diatas lahan
seluas 22,4 ha itu, akan dibangun juga gedung TK, SD, pertokoan,
Puskesmas, balai pertemuan, tempat bermain dan lapangan sepakbola.
Perumahan ini nantinya akan dinamakan Kampung Persahabatan Indonesia-
Tiongkok.


Pasca tsunami dan rekonstruksi Aceh

Berdasarkan pengalaman yang lalu, seperti pada pasca kerusuhan di
Maluku (Ambon, Ternate dan Halmahera), pembangunan kembali atau
rehabilitasi suatu daerah pasca bencana, dibutuhkan suatu kegiatan
ekonomi untuk benar-benar dapat kembali seperti sedia kala. Adalah
tidak cukup hanya terbatas pada rehabilitasi tempat tinggal,
prasarana teknis dan sosial lainnya. Memiliki tempat tinggal
tetapi tidak ada kegiatan ekonomi, berarti juga tidak memecahkan
masalah

Tanpa adanya kegiatan ekonomi atau aktivitas perdagangan, sulit
kiranya untuk berjalan normal kembali, seperti kemana rakyat
nantinya menjual hasil buminya atau tangkapan ikannya. Secara
tradisionil dan sederhana, seorang nelayan misalnya dapat berhutang
dahulu kepada seorang pedagang atau Taoke setempat sebelum melaut
(untuk mendapatkan bahan bakar, es batu untuk mengawetkan ikan,
makanan, sewa perahu, perlengkapan menangkap ikan, dll).

Hasil tangkapannya atau hasil bumi ini biasanya ditampung dan
dibeli oleh para pedagang setempat dan sebagian dipergunakan
untuk membayar hutang atau uang mukanya kembali. Selebihnya
dipergunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari yang disalurkan
oleh para pedagang sebagai distributornya, dengan demikian kegiatan
ekonomi dapat berjalan lagi. Suka atau tidak suka, model atau
interaksi perdagangan inilah yang telah berfungsi sampai sekarang.

Metode canggih dan modern seperti mendapatkan kredit dari Bank
Perkreditan Rakyat setempat, relatif sukar untuk dilaksanakan
bagi nelayan atau petani kebanyakan, karena prosedur dan
birokrasinya berbelit serta makan waktu dan biaya, pada umumnya
mereka tidak memiliki aset yang dapat dijadikan agunan atau
kolateral, kecuali tenaga kerjanya sendiri. Karenanya Gubernur
Maluku telah menghimbau kepada warga Tionghoa yang berasal dari
Ambon dan Ternate, untuk kembali kesana untuk menjalankan roda
perekonomiannya kembali.

Demikian juga dengan di Aceh, warga Tionghoa dapat berperan
menjalankan roda ekonominya kembali di Aceh. Berbeda dengan di
Maluku, Aceh banyak menerima bantuan-bantuan dari lembaga
Internasional. Tetapi inipun harus dilanjuti dengan suatu kegiatan
ekonomi.


Kedudukan Geostrategis Aceh

Aceh dikenal sebagai salah satu propinsi yang kaya akan sumber
alamnya di Indonesia dan kelebihan Aceh dibandingkan dengan
propinsi lainnya di Indonesia adalah lokasinya yang strategis
sama seperti pada abad-abad yang lalu. Aceh terletak di jalur lalu
lintas pelayaran Internasional atau disebut SLOC (Sea Lines of
Communication) yaitu di selat Malaka yang sangat strategis dan
merupakan pintu gerbang yang menghubungi lautan Pasifik dengan
lautan Hindia.

Selat Malaka yang panjangnya sekitar 900 km itu
diliwati sekitar 50.000 kapal setiap tahunnya serta 11 juta barel
minyak diangkut oleh kapal tanker melintas selat ini setiap
harinya, serta seperempat perdagangan dunia dan 80% kebutuhan
minyak Jepang dan Tiongkok diangkut melalui selat ini.

Dari segi geografis, Aceh terletak berdekatan dengan pusat-pusat
pertumbuhan baru di abad 21 yaitu Tiongkok dan India. Dengan kedua
negara ini, Aceh telah memiliki hubungan perdagangan yang
bersejarah sejak beberapa abad yang lalu. Jadi Aceh terletak
dipersimpangan jalur perdagangan internasional dan budaya.

Karena posisinya yang strategis ini maka Aceh menjadi pusat
pertemuan, perhatian dan kepentingan pihak-pihak nasional dan
internasional serta negara lainnya. Maka tidak heran kalau negara
EU dan negara lainnya berkepentingan menjadi mediator perdamaian
di Aceh dan beberapa orang-orang penting seperti Clinton, mantan
presiden AS juga datang berkunjung ke Aceh lebih dari satu kali..

Pada perang kemerdekaan 1945, menjelang persetujuan Renville,
Belanda meningkatkan blokade ekonominya terhadap Republik Indonesia,
terutama di Jawa dan Sumatera. Sejak itu pemerintahan RI melakukan
berbagai usaha untuk menembus blokade ini dari Aceh keluar negeri
(Malaya, Singapura, Thailand).

Selama perang kemerdekaan, Aceh tidak pernah dikuasai Belanda.
Dengan demikian Aceh merupakan daerah aman atau basis untuk
menampung senjata yang didatangkan dari luar negeri. Dalam hubungan
ini seorang Tionghoa, Mayor John Lie beserta kawan-kawannya berhasil
menerobos blokade Belanda melalui Aceh dengan mempergunakan speed
boat, dan salah satu speed boatnya terkenal dengan nama " The
Outlaw".


Aceh setelah Pilkada

Berdasarkan hasil perhitungan cepat yang dilakukan oleh Lingkaran
Survey Indonesia, pasangan Irwandi Jusuf dan Muhammad Nazar
memenangkan pemilihan calon gubernur Nangroe Aceh Darusallam.
Pelaksanaan Pilkada Aceh ini berjalan relatif aman dan damai, dan
ini akan merupakan awal lembaran baru sejarah Aceh, yang selama
ini telah dilanda konflik berdarah dan bencana alam tsunami.

Irwandi Jusuf, 46 tahun, sebagai calon gubernur pertama Aceh yang
otonom adalah generasi muda GAM, yang pernah ikut bergerilya
bersenjata. Ia juga pernah mendapatkan pendidikan di Oregon, AS
sebagai doker hewan, dan fasih berbahasa Inggris. Selama kampanye
Irwandi terlihat bersikap moderat dan sering berpakaian
tradisional Aceh dalam setiap penampilannya.

Apakah hasil Pilkada dan otonomi yang dicapainya sekarang dapat
membawa kesejahteraan kepada masyarakatnya, dan tidak mengulangi
seperti yang sering terjadi, dimana otonomi daerah relatif sedikit
membawa kemajuan yang berarti bagi masyarakat dan daerahnya,
kecuali beberapa Gubernur atau Bupatinya yang ditahan oleh KPK
karena terlibat KKN, masih harus dibuktikan oleh Irwandi Jusuf dan
Muhammad Nazar. Dan ini adalah tugas dan tantangan bagi mereka
berdua.

Pembangunan infrastruktur dan ekonomi adalah prioritas utama di Aceh
sekarang. Dengan kekayaan alam yang besar dan lokasinya yang
strategis, maka hal ini sebenrnya mempermudah modal asing untuk
datang dan investasi ke Aceh. Tetapi sampai kini, Aceh masih
terkesan sebagai sebuah propinsi yang konservatif dengan polisi
syariah-nya.

Bagaimana Aceh dapat memadukan nilai-nilai Islam dengan
modernisasi adalah suatu tantangan bagi Irwandi Jusuf. Bukannya
mustahil bahwa Aceh suatu waktu dapat menjadi sebuah propinsi
percontohan bagi yang lainnya.

Pada hakikatnya Aceh sebagai negeri yang memiliki sejarah tradisi
Maritim, memiliki sifat keterbukaan terhadap dunia luar, terbuka
untuk ide-de baru, kosmopolitan, multietnis dan bertoleransi serta
tempat bertemu dan bercampurnya (melting pot) berbagai bangsa
yang ikut membentuk identitas orang Aceh sekarang, maka Aceh
dikenal dengan singkatan sebagai (A)rab, (C)ina, (E)ropah, (H)
industan atau India.

Dalam pembangunan Aceh paska Pilkada yang bersejarah ini, komunitas
Tionghoa dapat berperan dalam pembangunan ekonominya nanti. Bukan
saja dibidang dibidang pembangunan perekonomian saja, dibidang-
bidang lainnya juga harus dapat diberikan kesempatan yang sama
kepada mereka tanpa kecurigaan dan perbedaan dalam membangun Aceh
bersama.

Salah satu pelopor dan pejuang hak-hak azasi manusia di Indonesia
adalah putera Aceh dari etnis Tionghoa yaitu Yap Thiam Hien,
demikian juga dengan sebuah terobosan kultural yang berani di era
reformasi ini, yaitu siaran stasiun TV nasional pertama di
Indonesia yang berbahasa Tionghoa, Metro Xinwen (Metro TV) yang
dipelopori oleh orang Aceh, Surya Paloh.

Salam,
GH.


Catatan : sumbangan dari sdr.Golden Horde

Bibliography: http://www.budaya-tionghoa.org/modules.php?name=News&file=print&sid=506

Minggu, 16 September 2007

Ringkasan artikel BUANA MINGGU; Tgl/hlm: 1988-11-27-X / 1-4

Keterangan: Data berikut ini, walaupun bukan menyangkut budaya Aceh, namun data ini cukup menarik karena ternyata masyarakat Minangkabau gemar menggunakan motif tumbuhan. Hal ini mengingatkan kami pada hiasan tumbuhan yang terdapat di label JAKULA.. Hal ini mungkin dikarenakan letak Aceh dan Sumatera Barat (Minangkabau) yang cukup dekat.

KHASANAH BUDAYA NUSANTARA – Mengenal budaya Minangkabau

BENTUK DASAR RAGAM HIAS MINANGKABAU
Sebagaimana juga halnya dengan cabang-cabang seni (seni rupa) yang lain, seni ukir Minangkabau berorientasi pada alam. Seluruh motif, ukiran yang diciptakan dikembalikan pada sifat gejala dan bentuk alam.
Bentuk-bentuk alam yang dijadikan motif ragam hias tidak diungkapkan secara realistis atau naturalistis, tetapi bentuk-bentuk tersebut distilasi menjadi motif-motif dekoratif ornamentik.
Nama-nama motif ragam hias Minangkabau dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu:
1. Nama Tumbuhan
Bentuknya tidak selamanya dapat disesuaikan dengan bentuk visual motifnya dan tidak selamanya motif itu mencerminkan bentuk yang sesuai dengan namanya. Beberapa nama yang cukup menonjol yang berasal dari nama tumbuhan antara lain; Aka Bapilin (Akar Berjalin), Aka Barayun (Akar Berayun), Aka Taranang (Akar Terapung), Bungo Palo (Bunga Pala), Bunga Matoari (Bunga Matahari), Kaluak Paku (Lengkung Pakis), Pucuak Rabuang (pucuk Rebung), dll.
2. Nama Binatang
Nama-nama motif yang berasal dari nama-nama binatang mencapai jumlah 21 motif (tidak disebutkan apa saja motifnya), diambil dari nama-nama binatang yang terdapat dalam lingkungan Minangkabau sendiri. Motif-motif ini juga tidak langsung terlihat seperti bentuk-bentuk binatang itu sendiri. Motifnya pun mirip dengan motif-motif yang berasal dari tumbuhan. Contohnya antara lain; Ayam Mancotok dalam Kandar (ayam mematuk dalam kandang), Bada Mudiak (Ikan Berenang Beriringan ke Hulu) dsb.
3. Nama Benda dan Manusia
Nama benda yang dipakai antara lain; Aie Bapeso (air berputar), Ati-ati (bentuknya menyerupai hati), Kipeh Cino (kipas Cina) dan masih banyak lagi yang lainnya. Jumlah motif ini mencapai 31 buah, diantaranya juga terdapat nama manusia sepertoi Ambun Dewi, Si Ganjua Lalai (nama gadis) dll.

ARTI YANG TERKANDUNG PADA MOTIF RAGAM HIAS MINANGKABAU
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, ragam hias Minangkabau mengambil motif dengan meniru alam. Sifat ini juga berlaku pada sendi-sendi kehidupan masyarakat. Sifat-sifat dan tingkah laku alam tersebut dituangkan pada kata-kata adat yang dituangkan turun temurun sebagai pengetahuan yang berguna bagi pengaturan kehidupan dan perilaku masyarakat.
Pada ragam hias motif Minangkabau, namyak motif yang dihubungkan dengan kata-kata adat yang mengatur perilaku kehidupan manusia. Para ahli ukir jaman dahulu rupanya berusaha untuk mengabadikan atau memvisualisasikan kata-kata adat tersebut ke dalam bentuk-bentuk ukiran dengan harapan bahwa motif tersebut akan menggugah dan mengingatkan para penikmatnya akan nasehat-nasehat yang terkandung di dalamnya.
Motif yang sulit dikenali karena nama dan bentuk visualnya yang tidak mirip agaknya berhubungan dengan adanya larangan agama untuk melukiskan makhluk hidup pada gambar atau ukiran.
Ukiran dan ragam hias Minangkabau berdasarkan adat adalah pembawa pesan-pesan adat, bukan kemauan pribadi senimannya. Hal ini berlangsung ketat. Dengan demikian seni ukir atau motif Minangkabau selain berfungsi sebagai elemen keindahan juga berfungsi sebagai pendidik dan pedoman bagi masyarakat dengan perlambangan dan kata-kata adat yang dikandungnya.



Bibliography: BUANA MINGGU; Tgl 1988-11-27-X / hlm 1-4

Ringkasan artikel: BERITA BUANA; Tgl/hlm: 1986-05-10.IV / 6-9

“Andaikata Senjata Tradisional Bisa Bicara (2) – Motif Naga datang dari Cina
Motif-motif ukiran yang tampak pada pada sarung rencong umumnya berkisar pada hiasan ornamental, deformasi burung, kupu-kupu, ular, kepala naga, dsb.
Melihat bentuk rencong seluruhnya yang agak melengkung maka ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa bentuk rencong Aceh berasal dari bentuk “Jambia” yang dipakai oleh bangsa Turki dan bangsa Mogul. Senjata Jambia yang berasal dari kedua bangsa tersebut dibawa oleh pedagang-pedagang Arab yang berkelana di daerah Koromandel (India) untuk kemudian diperdagangkan ketika mereka meneruskan perjalanan ke Aceh pada permulaan abad ke-13. Senjata-senjata tikam yang berasal dari Turki dan dari bangsa Mogul sangat digemari karena terbukti keampuhannya dalam menaklukkan musuh-musuh mereka masing-masing yaitu ketika bangsa Turki menguasai daerah Yunani dan Austria; dan bangsa Mogul menguasai India Utara pada permulaan abad ke-16. Senjata-senjata itu dibubuhi tulisan-tulisan kaligrafis dari ayat-ayat Al Qur’an, yaitu pada kedua belah mata pisau. Namun demikian sesuai dengan daerah-daerah di Aceh (seperti Aceh Tengah atau Aceh Gayo,Aceh Selatan dan lainnya) yang menunjukkan perbedaan-perbedaan etnis, maka bentuk rencong yang berasal dari daerah-daerah itu juga agak berbeda satu dengan yang lainnya. Misalnya saja, selain ada bentuk rencong neupucok, ada juga rencong meukurer ataupun rencong pudoi yang bentuk hulu berukirannya berbeda sekali dengan yang lain.

Ukiran-Ukiran Pada Rencong dan Sarungnya

Berlainan dengan maksud dari motif-motif ukiran yang terdapat pada hulu dan sarung keris yang didasarkan atas kepercayaan pada kharisma perlambangan dan disesuaikan dengan pribadi atau akhlak calon pemilik (pemakai), maka motif-motif yang ditatahkan pada hulu dan dan sarung rencong dibuat atas kehendak atau menurut selera si pemakai sendiri. Misalnya: motif gambar (ayam) jago lebih disukai oleh golongan lelaki yang suka menampilkan sifat keberanian dan kejantanan, sedangkan motif kupu-kupu disukai oleh golongan wanita yang juga mengenakan rencong sebagai pelengkap kostum, atau bilamana mereka ini ikut berjuang dalam pertempuran.. Dengan masuknya kebudayaan Tiongkok di kalangan masyarakat Aceh setelah tahun-tahun 1406, 1415 dan 1431 bagian Aceh Utara dikunjungi oleh seorang utusan dari Kaisar Cina yaitu Cheng-Ho dengan pengikut-pengikutnya dan kemudian menyusul utusan bernama Ma-Huan yang mengunjungi Aru, Nago, Litai dan Lampoli, dengan membawa barang-barang keramik dan porselen Cina, bahan sutera yang bergambar motif naga dan lainnya, maka lambat laun motif naga sebagai lambang kekuasaan dan kejayaan raja juga mulai digemari oleh golongan bangsawan Aceh.
Ukiran-ukiran lain yang terdapat pada hulu rencong merupakan gambar daun-daunan, bunga rantai atau figura-figura geometris yang dibuat secara halus melingkari bagian atas dan bawah dari hulu. Kadang-kadang ukiran semacam itu dibuat pada lapisan emas sebagai pembungkus hulu dan sarung rencong yang dibubuhi bermacam-macam batu permata seperti batu Zamrud, mirah, safir dan intan. Jenis rencong ini kebanyakan dimiliki oleh golongan bangsawan dan hartawan di wilayah Aceh. Kadang-kadang terdapat pula angka-angka yang menunjukkan tahun-tahun kemenangan dalam pertempuran perang Aceh pada bagian hulu atau bagian pangkal dari mata rencong. Ukiran-ukiran atau tatahan-tatahan pada kedua belah mata rencong yang terdiri dari bengkuwang rencong di bagian pangkal dan di bagian batang rencong dinamakan “reukung-reungsuk” dan bersifat sederhana. Di bagian pertengahan atau bagian perut rencong ada tatahan berupa tulisan kaligrafi huruf-huruf Hidayah yang bersumber pada kata-kata dari ayat-ayat Al Qur’an atau sebagian dari kalimah Syahadat.
Dari semua itu dapat ditarik kesimpulan bahwa unsur-unsur kebudayaan Islam berpengaruh lebih besar pada falsafah hidup rakyat Aceh daripada pengaruh kebudayaan dari Tiongkok maupun Eropa yang juga diintroduksikan dalam sistem pendidikan mereka.
Dalam perkembangan seni ukiran yang diterapkan pada pembuatan perhiasan emas dan perak, para seniman Aceh lebih cenderung untuk menciptakan motif-motif ornamental dari lingkungan alam (flora dan fauna) yang dikombinasikan dengan figura-figura geometris.



Bibliography: BERITA BUANA; Tgl 1986-05-10.IV / hlm 6-9

Laporan Kegiatan Kelompok; Jumat 14 September 2007

Hari ini, kelompok kami berkumpul di perpustakaan Untar (Gedung R lt.8) dengan tujuan mencari buku-buku yang berkaitan dengan budaya Aceh dan Tionghoa. Kelompok kami tidak merencanakan tujuan yang jauh-jauh terlebih dahulu; hal ini dikarenakan pada akhir minggu ini banyak sekali tugas-tugas kuliah lain yang harus diselesaikan karena sudah mendekati UTS. Perpustakaan Untar pun ternyata memiliki data yang cukup banyak dan lengkap, terutama kliping-kliping koran lama yang telah diklasifikasikan menurut bidang yang dibahas. Beberapa diantaranya kami ambil dan kami teliti bersama-sama. Kebanyakan kumpulan kliping yang kami ambil adalah kliping sejarah, selain itu ada juga kliping sosial budaya, seni dan bahasa.
Beberapa artikel yang kami pilih karena memiliki kaitan dengan budaya Aceh-Tionghoa, maupun hal-hal yang berkaitan dengan pembahasan label yang telah kami buat adalah sebagai berikut:
1. Artikel surat kabar : BUANA MINGGU;
Tanggal/hal : 1988-11-27-X/1-4
Subjek : Kesenian
Judul artikel : KHASANAH BUDAYA NUSANTARA – “Mengenal Ragam Hias Minangkabau”
2. Artikel surat kabar : BERITA BUANA;
Tanggal/hal : 1986-05-10-IV/6-9
Subjek : Seni
Judul artikel : ANDAIKATA SENJATA TRADISIONAL BISA BICARA (2) – “Motif Naga Datang dari Cina ”

Ada juga 2 buah artikel dari bidang Bahasa, mengenai “Sejarah Perkembangan bahasa Indonesia” dan “Penyusupan Kata Asing dalam Bahasa Indonesia”. Sayangnya data ini kehilangan sumbernya ketika kami copy. Untuk itu mungkin hanya 2 data di atas yang dapat kami posting terlebih dahulu.. Sementara sumber data yang kurang lengkap ini akan kami perbaiki segera dan diposting kemudian.

Jumat, 14 September 2007

BPOM Temukan 15 Obat Kuat Ilegal

Jakarta, Senin

Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) menemukan 15 merek produk obat kuat afrodisiak--obat untuk meningkatkan libido pria-- ilegal yang mengandung bahan kimia obat keras Sildenafil Sitrat.

Kepala BPOM H Sampurno di Jakarta, Senin (29/8), mengatakan, produk obat kuat tersebut banyak ditemukan dan diperjualbelikan di pasar-pasar Jakarta, seperti Pasar Pramuka, Pasar Jatinegara, Pasar Rawa Bening dan Pasar Muara Karang.

Produk itu diperjualbelikan dengan merek dagang Jamu Sehat Pria Seksi, Jamu Pasihot, Tablet Cobra Laut, Tablet Pas Tipas, Busur Perkasa, X-Mas, Pegasus Kuda Terbang, Spider, Scorpion, Vi-Gra, Pastigra, Kuda Mas, Spontan-On, Bali-Bali (PJ Madura Sakti) dan Bali-Bali (PJ Jaya Makmur) itu.

"Produk itu dicampur dengan Sildenafil Sitrat yang tidak bisa dipastikan keseimbangan dan kehomogenan campurannya karena pencampurannya tidak dilakukan secara ilmiah oleh ahli farmasi sehingga beresiko menyebabkan gangguan kesehatan," katanya.

Ia mengatakan, penggunaan bahan kimia yang biasa digunakan untuk pasien disfungsi ereksi itu dalam dosis yang tidak tepat atau tanpa pengawasan dari dokter dapat menyebabkan gangguan penglihatan, gangguan pencernaan (dyspepsia), muntah, sakit kepala, reaksi hipersensitif dan piapism--ereksi berkepanjangan--.

Dijelaskannya pula bahwa bahan kimia tersebut seharusnya tidak boleh digunakan oleh pasien yang sedang dalam terapi nitrat, pasien infark miokard, pasien yang tidak boleh melakukan aktifitas seksual dan pasien yang baru mengalami stroke. "Karena itu kami menyerukan kepada masyarakat luas supaya tidak membeli atau mengonsumsi produk tersebut," ujar Sampurno.

Menurut dia, perbuatan memproduksi dan atau mengedarkan produk yang dicampur dengan baham kimia obat keras tersebut secara ilegal merupakan tindakan pidana dan harus mendapatkan tindakan tegas melalui proses pro-justisia. Oleh karena itu, katanya, BPOM saat ini menurunkan petugasnya ke lapangan untuk mencari dan menyita produk-produk tersebut serta melacak produsen obat kuat yang rata-rata dijual seharga Rp30 ribu hingga Rp45 ribu di pasaran itu.

Sebab nama produsen resmi dari produk obat kuat yang semuanya tidak memiliki izin sarana dan izin registrasi dari BPOM itu kata dia hingga masih dalam penyelidikan. Berdasarkan pengamatan Antara, merek-merek obat kuat ilegal tersebut tidak terlihat pada tampilan (display) obat yang ada di sejumlah kios obat di Pasar Pramuka.

Obat kuat yang kemasannya ditampilkan di displai beberapa toko obat di pasar tersebut umumnya berupa jamu dengan merek Jakula, King Cobra, Mustika Laki, Kuda Sembrani dan Urat Madu. Seorang pemilik toko obat kuat perkasa di Jalan Pramuka juga menyatakan tidak menjual obat kuat dengan merek-merek tersebut. "Nggak ada, beli yang lain saja," katanya ketika ditanya apakah dia menjual obat kuat dengan merek Bali-Bali atau Kuda Mas.

Di bagian lain, Kepala Pusat Penyidikan Obat dan Makanan BPOM Weddy Mallyan menyatakan bahwa obat-obat ilegal semacam itu biasanya memang tidak diperjualbelikan secara terbuka di pasaran. "Kami menemukannya setelah melakukan serangkaian investigasi dan pengujian yang beberapa di antaranya dilakukan berdasarkan laporan atau keluhan dari masyarakat," demikian Weddy.

Sumber : Ant

Penulis : Nik

www.kompas.com



Bibliography: http://www.kompas.com/utama/news/0508/29/171318.htm

Minggu, 09 September 2007

Kerupuk Istimewa cap Cakra



Jenis rancangan : Label

Jenis Produk : Kerupuk

Nama Produk : Kerupuk Istimewa Cap Cakra

Nama Produsen : N/A

Alamat produk : Surabaya

Nomor daftar legal : N/A

Lembaga berwenang : N/A

Nomor hak paten : N/A

Dimensi : 97 mm x 89.5 mm

Warna : background putih dengan foreground putih dan merah

Teknik Produksi :

Material : Kertas

Visual yang tampak : Label ini menggunakan pendekatan simbol roda bergerigi, sesuai dengan mereknya yaitu cakra. Cakra sendiri berasal dari bahasa sansekerta ( India ) yang berarti roda/lingkaran. Berdasarkan data ini, kemungkinan desain label ini dipengaruhi budaya India. Hal ini diperkuat juga dengan penggunaan warna merah pada tipografinya.
Warna merah sendiri adalah warna khas tradisi India (contohnya adalah warna dari lambang di dahi wanita India yang sudah menikah).

Namun yang aneh dari label ini adalah pada huruf “C” pada “Cakra”. Huruf itu mengingatkan kita akan logotype Cocacola, dan bila diperhatikan lebih lanjut, mirip sekali dengan huruf “C” pada kata “cola”. Apakah ini berarti ada penjiplakan desain label? Bisa iya, bisa juga tidak, mengingat imej dari logo Cocacola yang sudah tertanam dan mendunia.


SUPER NACET BLADE


Jenis rancangan : Label

Jenis Produk : Silet

Nama Produk : Super Nacet Blade

Nama Produsen : N/A

Alamat produk : N/A

Nomor daftar legal : N/A

Lembaga berwenang : N/A

Nomor hak paten : N/A

Dimensi : 45 mm x 25 mm

Warna : background merah dengan tulisan dan gambar silet berwarna putih dan gambar buaya berwarna keemasan

Teknik Produksi :

Material : Kertas

Visual yang tampak : Label ini dirancang dengan sederhana saja, tidak ada penggunaan elemen visual yang banyak. Pada label ini ditampilkan visualisasi buaya disilet dan tipografi sederhana “Super Nacet”. Gambar buaya yang disilet menggambarkan betapa tajamnya silet merk ini. Tentu saja ini merupakan sebuah perumpamaan karena kita tahu tidak mungkin dengan silet kita bisa memotong/mengiris kulit buaya. Namun visualisasi berlebihan pada logonya membuat label ini terlihat menarik, ditambah lagi dengan warna buaya yang keemasan.
.



Blao cuci cap Kalong


Jenis rancangan : kemasan

Jenis produk : obat cuci

Nama produk : Blao cuci cap kalong

Nama Produsen : PB Tjitra

Alamat produk : N/A

Nomor daftar legal : N/A

Lembaga berwenang : N/A

Nomor hak paten : N/A

Dimensi : 53 mm x 53 mm

Warna : background merah dan biru dengan tulisan putih dan hitam dan gambar produk berupa outline berwarna biru

Teknik Produksi :

Material : Kertas

Visual yang nampak : terdapat gambar produk dengan visual kelelawar dan warna putih biru di bagian kanan. Dengan background merah-biru-merah, yang menurut kami sangat mirip dengan warna bendera negara laos dengan putih ditengahnya yang diwakilkan oleh gambar kalong tersebut. Entah ada hubungannya dengan negara Laos atau tidak. Ditambah lagi dengan tulisan yang menggambarkan produk tersebut, kelebihan produk tersebut, dan banyaknya produk dalam kemasan tersebut.
Sampai sekarang Blao cuci seperti ini masih ada. Dan apakah kain yang dicuci dengan menggunakan blao itu akan putih cemerlang? Belum tentu. Kain itu hanya akan jadi putih kebiruan, dan oleh penggemarnya itu sudah diyakini lebih bagus ketimbang putih kekuningan.
Namun menggunakan nama cap kalong apakah mencerminkan produk tersebut yang tujuannya ingin menghasilkan cucian yang putih cemerlang? kami tidak tahu.

KERTAS TEMBAKAU SINGO


Jenis rancangan : kemasan

Jenis produk : kertas tembakau

Nama produk : kertas tembakau SINGO

Nama Produsen : N/A

Alamat produk : N/A

Nomor daftar legal : N/A

Lembaga berwenang : N/A

Nomor hak paten : N/A

Dimensi : 80 mm x 38 mm x 2 mm

Warna : background hitam dengan tulisan putih.

Teknik Produksi : sablon

Material : Kertas

Visual yang nampak : Desain label ini hanya menggunakan satu jenis warna saja, hitam. Desain sederhana menggunakan jenis font yang kokoh dan tegar serta ditulis dengan huruf besar semua.
Desain label ini juga dikomposisikan centering, baik untuk kata maupun logo. Yang menarik adalah logo singa, logo ini sangat menonjol karena diletakkan di tengah-tengah label dan diberi lingkaran warna putih, logo singa itu sendiri terlihat seperti dibuat dengan ilustrasi tangan. Mengapa singa yang dipilih? Mengingat bahwa ini adalah salah satu produk yang berhubungan dengan tembakau (kertas tembakau, rokok, cerutu, dsb), maka biasanya memang digunakan lambang atau symbol yang berbau “jantan”, dalam hal ini yang dipakai adalah lambang singa. Sedangkan logotype SINGO diletakkan di depan sebuah pita berwarna putih, yang melambangkan kemewahan, seperti halnya pita-pita pada lambang kerajaan eropa.

Cigarettes Paper cap Begisar



Jenis rancangan : kemasan

Jenis produk : kertas tembakau

Nama produk : Cigarettes paper cap Begisar

Nama Produsen : N/A

Alamat produk : N/A

Nomor daftar legal : 98166

Lembaga berwenang : N/A

Nomor hak paten : N/A

Dimensi : 75 mm x 45 mm

Warna : background hijau dengan gambar ayam begisar berwarna merah dan putih

Teknik Produksi : sablon

Material : Kertas

Visual yang nampak : gambar ayam begisar nampak pada bagian tengah dari kemasan produk tersebut. Border kotak mengelilingi gambar begisar tersebut, disertai nama produk dan keterangan-keterangan lain dengan menggunakan jenis tulisan sans serif berwarna putih. Background menggunakan 1 warna blok, yaitu ungu dan hijau.

Kenapa menggunakan gambar ayam begisar untuk suatu produk kertas tembakau? Mungkin untuk menggambarkan bahwa yang menggunakan kertas tembakau tersebut, merupakan orang yang mempunyai strata sosial yang lumayan, alias berduit.
Mengenai asal-usul Ayam Bekisar yang disebut-sebut berasal dari Madura, konon tidak lepas dari diasingkannya seorang keturunan putera raja Mataram yang bernama Begisar. Sekitar tahun 1700-an, Begisar diasingkan di Pulau Kangean. Tetapi mengenai sebab musabab Begisar diasingkan di tempat itu, hingga kini tidak diketahui secara pasti.Saat menjalani pengasingan itulah, Begisar mencoba mengawinkan ayam hutan hijau jantan (gallus varius) dengan ayam kampung betina (gallus domestica). Keturunan dari hasil kawin silang itu kemudian dipersembahkan kepada pejabat atau penguasa setempat sebagai tanda mata. Berdasar hal itu, akhirnya diketahui bahwa Begisar memiliki makna cendera mata. Hingga kini Ayam Begisar atau akrab dengan sebutan Ayam Bekisar selalu dipersembahkan sebagai cendera mata (souvenir) kepada kalangan tertentu yang memiliki ‘kekuasaan’.





Kuda Leo

Jenis rancangan: Kemasan

Jenis produk: Pewarna pakaian

Nama produk: Kuda Leo

Nama Produsen : Sari Warna

Alamat produk : Ketandan 80 Yogya, Telp 3749

Nomor daftar legal : N/A

Lembaga berwenang : N/A

Nomor hak paten : N/A

Dimensi : 132 mm x 75 mm

Warna : background putih dengan foreground coklat.

Teknik Produksi :

Material : Kertas

Visual yang tampak: Sekilas, desain kemasan ini tampak seperti kemasan produk dari luar negeri, terutama dari Eropa. Hal ini terlihat jelas dari penggunaan gambar yang amat mirip sekali dengan simbol-simbol kerajaan Inggris. Kuda dan singa (pada produk ini dituliskan sebagai leo), perisai, dan ornamen tumbuhan di kiri kanannya amat berbau kebudayaan Eropa. Kemungkinan desain ini amat terpengaruh dengan kebudayaan Barat.
Nama naphtol sendiri juga ditulis dengan tanpa penerjemahan ke bahasa Indonesia, tidak seperti tulisan pada cara pemakaiannya (naptol). Napthol ini merupakan suatu bahan kimia yang biasa digunakan untuk mewarnai pakaian.
Warna atau tonal yang digunakan pada kemasan ini adalah warna coklat, mungkin disamakan seperti pada warna pewarnanya, soklat (coklat). Agak maksa ya.. he3.
.

Kerupuk Kulit Sapi - cap Ikan Louhan



Jenis rancangan : label

Jenis produk : kerupuk kulit sapi

Nama produk : kerupuk kulit sapi cap ikan louhan

Nama Produsen : N/A

Alamat produk : Tasikmalaya

Nomor daftar legal : N/A

Lembaga berwenang : N/A

Nomor hak paten : N/A

Dimensi : 100 mm x 103 mm

Warna : background putih dengan gambar biru dan font merah

Teknik Produksi :

Material : Kertas



Visual yang nampak : Ulir-ulir seperti corak batik tulis menjadi border dari label kerupuk tersebut dengan warna biru. Di tengahnya terdapat gambar ikan louhan berwana biru yang merupakan merek dari kerupuk kulit tersebut. Terdapat informasi bahwa produk ini halal yaitu pada kanan atas gambar ikan laohan tersebut. Selain itu terdapat tulisan-tulisan menggunakan warna merah disekeliling gambar ikan louhan tersebut.

Kemungkinan dari penggunaan cap ”louhan” dikarenakan adanya kepercayaan bahwa ikan louhan itu membawa keberuntungan di wilayah asia. Namun pada kenyataannya, ikan louhan sebenarnya adalah ikan hasil hibrid yang dibuat manusia, sehingga menimbulkan kontroversi dikalangan penggemar ikan hias. Mereka menganggap ikan ini adalah hasil dari ulah manusia yang bermain-main dengan Tuhan, dan tak urung ikan ini mendapat julukan sebagai Franken-fish (pelesetan dari makhluk ”robot” yang diciptakan oleh dokter Frankenstein). Yang jadi pertanyaan sekarang, benarkah bahwa kerupuk kulit sapi cap louhan itu halal jika dilihat dari ikan itu adalah hasil hibrid?


Wentol Mbangun-Trisno cap Kalkun


Jenis rancangan : Kemasan
Jenis produk : Pewarna Tekstil

Nama produk : Wentol Mbangun-Trisno cap Kalkun

Nama Produsen : N/A

Alamat produk : N/A

Nomor daftar legal : N/A

Lembaga berwenang : N/A

Nomor hak paten : N/A

Dimensi : 86 mm x 57.5 mm

Warna : paduan hijau tua dan putih

Teknik Produksi :

Material : Kertas

Visual yang tampak : Label dicetak menggunakan satu warna saja, hijau. Penggunaan warna tidak berdasarkan pertimbangan tertentu, namun tergantung dari jenis warna dari pewarna itu sendiri, ada pula yang kuning podang, dll. Selain tipografinya juga terdapat gambar pita, selayaknya gambar pita-pita kebanyakan desain kemasan, yang mungkin diadaptasi dari pita-pita kerajaan Eropa. Sedangkan penggunaan kalkun? Sama sekali tidak ada hubungannya dengan jenis produk ini. Apakah produk ini juga dapat digunakan untuk memperbaharui warna kalkun? Yang jelas itu sih terserah si produsennya.
Yang belum jelas adalah kenapa ada “mbangun-trisno” [membangun kasih]? Mungkinkah dengan memperbaharui warna pakaian diharapkan akan memberikan tebaran kasih sayang yang mempersegar? Selalu ada kemungkinan untuk itu...

TJENGKEH RADJANGAN TJAP KAMBING


Jenis rancangan : Label

Jenis Produk : Cengkeh

Nama Produk : Tjengkeh Radjangan Tjap Kambing

Nama Produsen : N/A

Alamat produk : N/A

Nomor daftar legal : 239313

Lembaga berwenang : N/A

Nomor hak paten : N/A

Dimensi : 84 mm x 60 mm

Warna : dominasi orange tua dengan lingkaran biru berlist putih

Font : Arial kecuali tulisan "Special" seperti ditulis tangan

Teknik Produksi : N/A

Material : Kertas

Visual yang tampak : label ini didesain secara simetris dengan berbagai motif di tengah dan sisi-sisi ujung label. Desainnya cukup dekoratif dengan gambar kepala kambing sebagai pusatnya. Garis-garis di sekeliling lingkarannya mungkin dibuat seperti efek cahaya yang memancar keluar, seolah memberikan jaminan bagi produknya. Selain itu garis-garis cahaya itu juga membentuk suatu motif bunga, hampir mirip dengan motif yang di ujung-ujung label. Motif bunganya pun terlihat seperti motif kawung. Kemungkinan sudah terjadi asimilasi budaya dalam perancangan desain label ini. Warna yang mendominasi label ini adalah warna merah.
Gambar kepala kambing di tengahnya merupakan lambang dari cap perusahannya. Entah apakah ada hubungannya dengan produk tjengkeh (ejaan lama dalam bahasa Belanda) ini. Bisa jadi pemilik perusahaan ini merupakan keturunan etnis Tiong Hoa yang amat percaya bahwa shionya (kambing) dapat memberikan keberuntungan.
.