Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Desember 2007

Kesimpulan

Sebagai produk jamu kuat yang diproduksi pada akhir tahun 1980-an, desain label Jamu Jakula telah cukup baik karena telah dapat mengkomunikasikan pesan mengenai produk tersebut dengan baik. Desain label juga tidak terlalu rumit, sehingga telah berkesan modern, namun tidak melupakan unsur tradisional. Kombinasi gaya desain dan pengaruh budaya yang beragam juga telah ditampilkan dengan cukup baik terlepas dari disengaja atau tidaknya kombinasi tersebut.
Demikianlah kesimpulan kami mengenai desain Jamu Jakula.

Teknik Cetak

Berdasarkan penelitian kami dari berbagai sumber sebagai berikut:
1. dari situs PT. Kesaint Blanc Indah Corp.

"PT. Kesaint Blanc Indah Corp. didirikan pada tanggal 12 Juni 1979.
Sesuai dengan Akte Notaris Drs. Gde Ngurah Rai, S.H., No. 17 tanggal 12 Juni 1979,
maksud dan tujuan perseroan adalah menjalankan usaha dalam bidang percetakan dan penerbitan. DIVISI PERCETAKAN
Percetakan merupakan cikal bakal PT. Kesaint Blanc Indah Corp. Modal awal percetakan ini adalah sebuah mesin handpress"


2. dari jurnal ilmiah Nirmana Universitas Kristen Petra

"Gaya indies (suatu sebutan bagi segala produk budaya pada masa akhir kolonialisme Hindia Belanda pada awal abad 20) diterapkan pada rancangan desain grafis dengan kekuatan kontur garis pembentuk obyek yang sangat luwes, rapi, dan artistic dipadu dengan warna-warna datar cenderung kusam proses cetak handpress. Gaya ini menjadi arus utama visualisasi perancangan desain cetak awal abad 20. Gaya indies sendiri merupakan gaya campuran antara gaya desain modern yang berkembang di Eropa pada abad 19 sampai awal abad ke-20 (seperti gaya Victorian, Art Deco, Plakatstil, Art Nouveau) dengan eksotisme seni rupa tradisional Indonesia yang dipelopori oleh seniman-seniman atau perancang grafis Belanda (dari para dokumentator visual jaman VOC sampai para perancang professional iklan yang didatangkan oleh perusahaan periklanan ANETA)."


maka kami memyimpulkan bahwa kemungkinan besar teknik cetak yang digunakan untuk mencetak kemasan Jakula adalah teknik handpress.

bibliography:

1. www.kesaintblanc.com

2. Riyanto, Bedjo. Gaya Indies: Gaya Desain Grafis Indonesia Tempo Doeloe. Dimuat dalam Jurnal Ilmiah Nirmana edisi Juli 2005 hal. 134-143. Surabaya: Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain –Universitas Kristen Petra. Didownload dari http://www.petra.ac.id/~puslit/journals/dir.php?DepartmentID=DKV oleh Bedjo Riyanto

Minggu, 25 November 2007

Pengaruh budaya dan desain pada Label Jamu Sehat “Jakula”

Jamu Jakula merupakan produk jamu kuat yang berasal dari Aceh. Aceh sendiri adalah wilayah yang memiliki budaya yang kaya dan unik. Sebagai wilayah pelabuhan yang ramai sejak berabad-abad yang lalu, Aceh selalu ramai didatangi oleh berbagai bangsa asing, termasuk di dalamnya bangsa Arab, China, Eropa, dan India. Akibatnya, tidaklah mengherankan bila budaya Aceh sendiri pun terpengaruh dan mengalami asimilasi dengan budaya bangsa-bangsa tersebut di atas.

Hal ini juga berpengaruh pada gaya desain dari kemasan Jamu Sehat “Jakula”.
Setelah melalui penyelidikan yang panjang, kami berhasil menyimpulkan pengaruh budaya dala desain Jamu Sehat “Jakula” sebagai berikut:
1. Pengaruh budaya Islam
Budaya Islam tampak pada motif dari tumbuhan yang melingkari sosok pria kuat. Ternyata motif tersebut merupakan motif yang banyak digunakan dalam desain Islami.




ornamen Islam

2. Pengaruh budaya Barat
Hal ini tampak pada penggunaan elemen pita dan penggunaan beberapa kata dalam bahasa Inggris yaitu “trademark” dan “special”

Lambang Kerajaan Belanda

Hal ini juga terasa dalam lay-out label “Jakula” di mana terasa adanya pengaruh dari gaya Plakatstil atau gaya Plakat, yaitu suatu gerakan desain modern di Jerman awal
abad ke-20 yang memfokuskan pada satu obyek image produk dengan kalimat teks yang minimal serta penggunaan tipografi yang sangat lugas dan tegas (bold). Aplikasinya pada kemasan Jakula terlihat dari penggunaan 1 image utama yang sentries meskipun juga ditambah beberapa elemen pendukung, serta penggunaan teks yang sederhana, legible, dan bold.

Gaya desain dalam label Jakula:
1. Art Nouveau, terlihat dari penggunaan berbagai jenis font dalam label Jamu Jakula, juga penggunaan elemen dekoratif tumbuhan dengan ilustrasi berkesan 2 dimensi dan ruang kosong yang cukup banyak.

The Kiss oleh Gustav Klimt, salah satu karya Art Nouveau

Buku berisi karya-karya Art Nouveau oleh Alphonse Mucha

2. Gaya plakatstil di mana terdapat satu image sebagai titik pusat yang terletak di tengah dengan penggunaan font yang sederhana, mudah terbaca dan cukup bold. Meskipun demikian, gaya tersebut tidak diaplikasikan 100% melainkan masih dicampur dengan gaya lainnya.
Karya Plakatstil oleh seniman Jerman Franz Stuck (1911)

3. Gaya indies (suatu sebutan bagi segala produk budaya pada masa akhir kolonialisme Hindia Belanda pada awal abad 20) diterapkan pada rancangan desain grafis dengan kekuatan kontur garis pembentuk obyek yang sangat luwes, rapi, dan artistic dipadu dengan warna-warna datar cenderung kusam proses cetak handpress. Gaya ini menjadi arus utama visualisasi perancangan desain cetak awal abad 20. Gaya indies sendiri merupakan gaya campuran antara gaya desain modern yang berkembang di Eropa pada abad 19 sampai awal abad ke-20 (seperti gaya Victorian, Art Deco, Plakatstil, Art Nouveau) dengan eksotisme seni rupa tradisional Indonesia yang dipelopori oleh seniman-seniman atau perancang grafis Belanda (dari para dokumentator visual jaman VOC sampai para perancang professional iklan yang didatangkan oleh perusahaan periklanan ANETA).


contoh karya dengan gaya indies: iklan Roko Prijaji Sigaret


Bibliography:


  1. Islamic Design. The Pepin Press. Agile Rabbit Edition

  2. Riyanto, Bedjo. Gaya Indies: Gaya Desain Grafis Indonesia Tempo Doeloe. Dimuat dalam Jurnal Ilmiah Nirmana edisi Juli 2005 hal. 134-143. Surabaya: Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain –Universitas Kristen Petra. Didownload dari http://www.petra.ac.id/~puslit/journals/dir.php?DepartmentID=DKV oleh Bedjo Riyanto

Formalistik, Ekspresionistik dan Instrumentalistik Jakula

Tinjauan label Jamu Jakula



Formalistik:
1. Ilustrasi pria muda yang menampilkan otot-ototnya
2. Motif dekoratif tumbuhan
3. Tulisan “Tenaga Tani Farma”
4. Elemen Pita
5. Kata “SPECIAL”
6. Tipografi Sans Serif dan Serif
7. Warna Merah
8. Logo “Tenaga Tani Farma”
9. Format: vertikal
Efek : simplifikasi

Ekspresionistik:
1. Ilustrasi pria muda berotot menunjukkan bahwa Jakula dikhususkan untuk meningkatkan vitalitas pria
2. Motif dekoratif tumbuhan melambangkan bahwa Jakula merupakan produk dari bahan-bahan alami
3. Kata “Tani” dari “Tenaga Tani Farma” melambangkan kesuburan
4. Elemen pita sebagai pendukung dan dekorasi
5. Kata “SPECIAL” mengandung pesan bahwa ini bukanlah produk tradisional sembarangan
6. Tipografi Sans Serif dan Serif menunjukkan kesan modern tanpa melupakan unsur keluwesan
7. Warna Merah melambangkan kejantanan
8. Logo “Tenaga Tani Farma” dimaksudkan agar konsumen mengenali perusahaan ini sebagai produsen jamu bermutu
9. Format vertikal menunjukkan kesan tegak dan kokoh

Instrumentalistik:
Pengaruh kebudayaan (dijelaskan lebih lengkap dalam posting berikutnya) yang tampak pada label Jamu Jakula adalah:
1. Pengaruh budaya Islam
Budaya Islam tampak pada motif dari tumbuhan yang melingkari sosok pria kuat. Ternyata motif tersebut merupakan motif yang banyak digunakan dalam desain Islami.
2. Pengaruh budaya Barat
Hal ini tampak pada penggunaan elemen pita dan penggunaan beberapa kata dalam bahasa Inggris yaitu “trademark” dan “special”
Hal ini juga terasa dalam lay-out label “Jakula” di mana terasa adanya pengaruh dari gaya Plakatstil.

Gaya desain (dijelaskan lebih lengkap dalam posting berikutnya) dalam label Jakula:
1. Art Nouveau, terlihat dari penggunaan berbagai jenis font dalam label Jamu Jakula
2. Gaya plakatstil di mana terdapat satu image sebagai titik pusat yang terletak di tengah dengan penggunaan font yang sederhana, mudah terbaca dan cukup bold.
Meskipun demikian, gaya tersebut tidak diaplikasikan 100% melainkan masih dicampur dengan gaya lainnya.
3. Gaya indies (suatu sebutan bagi segala produk budaya pada masa akhir kolonialisme Hindia Belanda pada awal abad 20) diterapkan pada rancangan desain grafis dengan kekuatan kontur garis pembentuk obyek yang sangat luwes, rapi, dan artistic dipadu dengan warna-warna datar cenderung kusam proses cetak handpress. Gaya ini menjadi arus utama visualisasi perancangan desain cetak awal abad 20.

Konteks sosial: Jamu Jakula menampilkan sosok pria berotot dalam labelnya. Hal ini menunjukkan bahwa pria yang dianggap berstamina dan kuat oleh masyarakat adalah pria yang berotot, padahal tidak berarti pria yang kurus lantas menjadi tidak kuat. Pada masa itu, definisi pria berotot juga bukanlah pria berbadan sixpack dengan otot yang sangat kekar seperti sekarang. Dalam kemasan-kemasan Jakula berikutnya, kita bisa melihat bahwa ilustrasi pria yang ditampilkan semakin besar ototnya. Masyarakat Aceh (yang mayoritas beragama Islam) pada masa itu juga telah cukup modern sehingga dapat menerima ilustrasi manusia yang sebenarnya dilarang oleh agama Islam. Meskipun demikian, nuansa agama Islam masih kental terasa dari ornamen tumbuhan pada label. Masyarakat pada masa itu juga telah menganggap bahasa Inggris sebagai bahasa yang penting dan bergengsi, juga tampak adanya percampuran budaya Barat dalam label yang menunjukkan bahwa teknologi telah mulai berkembang yang memungkinkan percampuran budaya dengan cepat dan mudah.

Senin, 19 November 2007

Asal Nama Jakula

Dari hasil browsing kami, kami menemukan sebuah kenyataan yang cukup menarik yaitu kata “Jakula” ternyata merupakan marga yang berasal dari Swedia. Mungkinkah pemilihan nama Jakula untuk produk jamu yang kami bahas mendapat pengaruh dari situ? Bisa saja ternyata si pemilik pernah mendengar nama tersebut lalu diplesetkan menjadi “Jakula: Jamu Kuat Laki-laki”. Mungkin saja kan?

Akan tetapi setelah kami teliti lebih lanjut, ternyata populasi marga Jakula sangat sedikit terdapat di Amerika, sedangkan populasinya di Inggris tidak tercatat oleh website tersebut. Nama tersebut pun sangat jarang atau bahkan tidak pernah kita dengar sebagai nama marga. Oleh karena itu, kami menilai kecil kemungkinan bagi nama tersebut untuk menjadi sumber bagi nama Jakula sehingga menurut kami lebih besar kemungkinan Jakula sebagai singkatan dari Jamu Kuat Laki-laki.

Bibliography: www.ancestry.com

Laporan Kunjungan ke Perpustakaan Nasional part 2

Pada hari Senin tanggal 29 Oktober 2007, the fantASIX kembali mengunjungi Perpustakaan Nasional untuk kedua kalinya. Kedatangan kami ke sana kali ini untuk melanjutkan kunjungan kami sebelumnya yang tidak membuahkan hasil.

Kunjungan kami kali ini sebenarnya masih dikategorikan kurang berhasil. Meskipun kami disambut ramah petugas perpustakaan yang berada di lantai 8, nyatanya surat kabar yang kami cari yaitu The Sumatra Times dan Hua Chiau Yit Po tidaklah termasuk koleksi dari Perpustakaan Nasional. Pun demikian dengan surat kabar Peristiwa: Untuk Agama, Bangsa, dan Negara dan Harian Duta. Meskipun merupakan koleksi dari Perpusnas, surat kabar-surat kabar tersebut ternyata tidak lagi terbit di tahun 1979. Petugas Perpustakaan pun menawarkan kami untuk menelusuri artikel di surat kabar nasional seperti Kompas yang koleksinya cukup lengkap. Akhirnya kami pun memutuskan untuk mengikuti saran dari petugas perpustakaan tersebut.

Dari hasil penelusuran kami terhadap surat kabar Kompas era 1979-1980, kami sayangnya tidak menemukan informasi apapun mengenai Jamu Jakula. Sebagai surat kabar nasional yang berbasis di Jakarta, Kompas lebih banyak menampilkan iklan produk-produk ibukota maupun produk-produk daerah yang sudah mencakup skala nasional. Tampaknya pada saat itu, Jamu Jakula masih belum merupakan produk yang terkenal. Mungkin saja karena pada saat itu, jamu tersebut baru diproduksi dan lagipula perusahaannya terletak di Banda Aceh sehingga kurang terekspos di ibukota. Tidak seperti sekarang di mana meskipun hanya sedikit masyarakat ibukota yang pernah mendengar nama Jamu Jakula, produk ini mampu bertahan dan telah diekspor ke negara tetangga kita, Malaysia.

Akan tetapi bukan berarti hasil baca-baca kami di Perpusnas sama sekali nol. Ada beberapa kesimpulan yang dapat kami ambil dari artikel-artikel yang kami baca berikut dengan beberapa gambar yang sayangnya tidak begitu jelas (maklum, fotonya buru-buru dengan kamera handphone seadanya karena di sana seharusnya tidak boleh memotret), antara lain sebagai berikut:

1. Produk-produk obat-obatan pada masa itu banyak yang hanya menampilkan tipografi pada kemasannya. Di antaranya banyak produk yang masih dapat kita temui hingga sekarang. Produk-produk tersebut antara lain:

a. Obat batuk Vicks Formula

b. Bedak Herocyn

c. Obat sakit kepala Bodrex dan Bodrexin

d. Obat pelega pernapasan Vicks Inhaler

e. Salep Vicks Vaporub

2.Ada juga beberapa produk obat yang menampilkan ilustrasi pada kemasannya namun jumlahnya tidak banyak. Produk-produk tersebut antara lain:

a. Obat flu Inza dengan ilustrasi yang masih sama-sama saja sampai sekarang

b. Obat batuk Konidin yang ilustrasinya pun tidak jauh berbeda dengan kemasannya sekarang.

c. Jamu Jago yang menampilkan ilustrasi ayam jago.


d. Jamu Awet Ayu yang menggunakan ilustrasi seorang wanita cantik.

e. Obat pelangsing Biguerlai Herb yang menampilkan siluet seorang wanita dengan ornamen tumbuhan sebagai frame.


Dengan demikian kami menyimpulkan bahwa Jamu Jakula ternyata menggunakan ilustrasi, sama dengan produk Jamu Jago. Perbedaan yang kami tangkap antara produk yang menggunakan tipografi saja dengan produk yang juga menampilkan ilustrasi adalah:

· a. Produk yang menampilkan tipografi saja mempunyai kesan lebih sederhana, selain itu juga berkesan lebih modern dengan target market masyarakat kelas ekonomi yang lebih tinggi, yaitu yang minimal tidak buta huruf.

b. Produk yang menampilkan ilustrasi mempunyai kesan lebih down-to-earth. Target marketnya meliputi masyarakat yang masih buta huruf. Kesan modern atau tidaknya tergantung pada ilustrasi yang ditampilkan, misalnya ilustrasi kemasan Konidin memberikan kesan modern karena simple dan minimalis, sedangkan ilustrasi kemasan Jamu Jago lebih berkesan tradisional.

Dengan demikian dari kemasan Jamu Jakula yang juga menampilkan ilustrasi kami dapat mengkategorikan bahwa Jamu Jakula ditargetkan juga untuk masyarakat kelas bawah yang masih buta huruf. Meskipun demikian, Jamu Jakula tidaklah memiliki ilustrasi yang berkesan tradisional, melainkan cenderung modern karena ilustrasinya telah cukup sederhana.


The fantASIX di depan Perpusnas

The fantASIX di direktori Perpusnas

Bibliography : Kompas. November 1979. Kliping koran koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Minggu, 11 November 2007

Tinjauan Tipografi Jamu Jakula


Formalistik:
Font yang digunakan pada kemasan Jamu Jakula terdiri dari 5 jenis font yaitu:
1. 2 buah font serif yang ukurannya kecil untuk tulisan “PRIA” dan “JAKULA”
2. 3 buah font sans serif dengan ukuran yang relatif lebih besar dan jumlah kata yang lebih banyak untuk tulisan sisanya.

Ekspresionistik:
Tulisan yang paling menonjol dari bagian depan packaging adalah tulisan “JAMU SEHAT” dengan font sans serif namun tidak terlalu kaku. Tampaknya hal tersebut bertujuan untuk memberikan kesan yang modern namun tetap tidak melupakan unsur keluwesan yang mengingatkan bahwa ini adalah produk jamu yang berasal dari bahan-bahan tradisional. Dari sini produsen seolah ingin menyerukan bahwa ini adalah produk tradisional yang telah dimodernkan, baik melalui proses produksi hingga pemasaran yang modern.
Banyaknya jumlah font yang dipakai mengingatkan akan gaya desain Art Nouveau yang mencampurkan berbagai unsur menjadi satu. Akan tetapi sebenarnya hal ini tidak terlalu ketara karena meskipun berbeda-beda, jenis font yang dipakai cukup mirip.

Instrumentalistik:
Penggunaan font seperti pada label Jamu Jakula menunjukkan bahwa masyarakat pada masa itu telah mengenal gaya yang cukup modern, akan tetapi kombinasi jumlah font yang berlebihan juga memberitahukan kita bahwa masyarakat pada saat itu baru mencoba-coba mencari gaya modern yang tepat sehingga masih menggunakan banyak jenis font yang sebenarnya cenderung mirip yang mengakibatkan kurangnya integritas pada label jamu itu sendiri.

Minggu, 28 Oktober 2007

Kajian Berdasarkan Buku Reka Reklame: Sejarah Periklanan Indonesia 1744-1984


Berdasarkan buku Reka Reklame: Sejarah Periklanan Indonesia 1744-1984 the fantASIX memperoleh beberapa fakta baru tentang keadaan masyarakat Indonesia pada tahun 1980-an, yaitu sebagai berikut:

1. Pada masa ini perusahaan-perusahaan di Indonesia telah mengenal penggunaan logogram dan juga logotype, hal ini tepatnya dimulai sejak tahun 1950-an. Meskipun jamu Jakula tidak memiliki logogram dan merk “Jakula” sendiri pun ditampilkan dalam tipografi yang terlalu umum, namun PT. Tenaga Tani Farma yang merupakan produsen Jakula telah mencantumkan logonya pada kemasan logo tersebut.
2. Awal tahun 1970-an, berbagai perusahaan multinasional merambah ke dalam negeri seperti Coca-Cola dari Amerika, Toyota, Mitsubishi dan Fuji Film dari Jepang dan Singapore Airline dari Singapura. Hal ini dapat mempunyai pengaruh pada produk dalam negeri Indonesia, apalagi bila produk tersebut cukup terkenal dan mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia. Pengaruh yang dapat kita lihat misalnya peniruan logotype “C” pada Coca-Cola pada kerupuk Cakra (lihat kategori “merk yang lain”). Akan tetapi hal ini masih belum dapat dibuktikan relevansinya dengan Jamu Jakula karena kami belum menemukan data apakah ada juga produk serupa yang diimpor dari luar negeri.
3. Pada masa ini pula bahasa Inggris dianggap sebagai bahasa penting yang cukup bergengsi. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya lowongan pekerjaan pada masa tersebut yang menuntut penguasaan bahsa Inggris, meskipun hanya untuk posisi juru uang atau piƱata buku. Pengaruh hal ini dapat terlihat dari tulisan “SPECIAL” pada kemasan Jamu Jakula. Hal ini bisa jadi dimaksudkan untuk menyerukan bahwa ini adalah sebuah produk yang penting dan berkualitas.

Kesimpulan:
Dari kajian di atas kami dapat memperoleh beberapa kesimpulan mengenai packaging Jamu Jakula:
Ekspresionistik:
1. Penggunaan logo mengandung makna bahwa produsen ingin agar konsumen dapat membedakan produk ini dengan produk serupa di pasaran. Pencantuman logo perusahaan juga dimaksudkan agar konsumen dapat mengenali perusahaan ini sebagai produsen jamu bermutu dan akhirnya akan merasa lebih percaya pada saat membeli produk lain dari perusahaan ini dan pada akhirnya tentu akan meningkatkan omset perusahaan.
2. Penggunaan kata “Special” mengandung pesan bahwa ini bukanlah produk tradisional sembarangan, melainkan sebuah produk yang dibuat oleh para ahli dengan teknik modern dan terjamin kualitasnya.

Instrumentalistik:
1. Logo ditampilkan karena pada masa itu masyarakat Indonesia telah sadar bahwa penting untuk memberikan ciri khas pada produk mereka. Hal yang agak kontradiktif dengan penulisan merk “JAKULA” yang biasa dan berukuran kecil, sehingga tidak menonjol.
2. Kesadaran akan pentingnya bahasa Inggris telah muncul pada masa ini.



Bibliography: Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia. 1993. Reka Reklame: Sejarah Periklanan Indonesia 1744-1984. Jakarta: Pengurus Pusat Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia.

Minggu, 23 September 2007

Pembahasan Desain Grafis pada Kemasan

Dari artikel sebelumnya, kami dapat mengatakan bahwa desain kemasan jamu sehat JAKULA ini sudah memenuhi syarat-syarat desain grafis yang baik. Di balik desain estetisnya yang sederhana, desain ini cukup komunikatif dan informatif pada masyarakat jaman itu. Yang perlu diingat adalah sekitar tahun 1979-an (tahun perkiraan jamu ini mulai diproduksi) konsumen Indonesia sebagian besar belum mengenal huruf sehingga ilustrasi pada label jamu sangat membantu konsumen untuk mengerti kegunaan dari produk ini. Image obat kuatnya berhasil tersampaikan melalui ilustrasi pria berotot pada label jamu sehat JAKULA.

Jamu ini juga kami simpulkan sebagai produk yang cukup berhasil dari segi penjualan karena produk ini masih bisa bertahan sampai abad modern ini, bahkan diekspor ke Malaysia(menurut website PT.Tenaga Tani Farma, Produsen Jakula). Hal ini tentunya tidak terlepas dari desain label yang merupakan salah satu media promosi.

Dari segi grafis, warna cukup kontras dengan background. Jenis tulisan mudah terbaca, teks yang ditampilkan juga sudah jelas, singkat, mudah terbaca dan kami nilai menyatu dengan desain keseluruhan.

Dari segi warna, warna merah ternyata merupakan simbol kejantanan, sesuai dengan fungi produk yang dijual. Di artikel tersebut juga disebutkan bahwa warna merah disukai Sumatera Utara. Kemungkinan warna ini juga disukai di Aceh mengingat letak geografis yang berdekatan dengan Sumatera Utara.

Bibliography: Pirous, AD. 2007. Desain Grafis pada Kemasan. Retrieved 22 September 2007 from Desain Grafis Indonesia http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2007/06/25/desain-grafis-pada-kemasan/

Perbandingan Label-label Jamu Kuat

The fantASIX mencoba untuk mencari perbandingan antara label-label jamu dan obat kuat yang ada di pasaran untuk diperbandingkan dengan label Jamu Jakula.

Berikut label-label tersebut:



"COBRA LAUT"








"CULA BADAK"








"GINSENG KUDA-LAUT"








"HORMOVITON"










"IREX"






"KUDA"








"KUKU BIMA"





"MA'JUN SEMANGAT"








"MACHO MAN"








"PASAMA"





"PILKITA"





"PRIA PERKASA"









"JAMU IBOE - SARI JAMU SEHAT PRIA"












"SEHAT PRIA"










"SING LUNG SAN"









"STRONGPAS"



Kesimpulan:

Gambar yang kebanyakan dipakai dalam label-label jamu/obat kuat yang lainnya adalah:
1. komposisi dari obat/jamu tersebut, misalnya: Cula Badak, Kuda Laut, ginseng (merk StrongPas), dsb
2. simbol maskulin, misalnya: Kuda, Sagitarius (pada Irex dan Pasama), simbol laki-laki (pada Hormoviton)
3. sosok laki-laki yang dianggap perkasa, misalnya: Bima (merk Kuku Bima), siluet dan gambar pria berotot (merk Sing Lung San dan Pria Perkasa), orang Arab (merk Ma'Jun Semangat)
4. sedikit saja yang hanya menggunakan logotype (Pilkita), gambar pria dan wanita yang sedang ber"aktivitas" (merk Macho Man), foto model yang sayangnya kurang meyakinkan menurut kami (merk Sehat Pria)

Sedangkan label Jamu JAKULA sendiri termasuk dalam kategori yang ketiga yang digambarkan dengan sosok pria berotot.

Kamis, 20 September 2007

Pembahasan Artikel Hubungan Sejarah Aceh dan Tiongkok

PEMBAHASAN ARTIKEL “HUBUNGAN SEJARAH ACEH DAN TIONGKOK”

Poin-poin penting yang kami dapat dari artikel tersebut adalah:
▪ Jadi jauh sebelum kerajaan Aceh Darussalam berdiri,
komunitas Tionghoa telah berada di Aceh sejak abad ke-13.
▪ Orang Aceh mendapatkan ilmu pembuatan meriam ini dari orang
Tionghoa. Demikian juga dengan
pertenakan sutera yang sudah dikuasai oleh orang Aceh yang
kemungkinan besar diperkenalkan oleh orang-orang Tionghoa.
▪ Pernah pada jaman Sultan Iskandar Thani ini orang Tionghoa
dikenakan larangan untuk tinggal di wilayahnya, karena dianggap
memelihara Babi. Pada jaman Iskandar Thani ini di ibukota kerajaan
telah dibangun sebuah taman yang dinamakan "Taman Ghairah", diceritakan
bahwa didalam taman itu telah dibangun sebuah "Balai Cina"
(paviliun) yang dibuat oleh para pekerja orang Tionghoa.
▪ Peranan orang Tionghoa dibidang perdagangan di Aceh diperkirakan
bertambah besar pada paruh kedua abad ke-17.
▪ Lonceng atau genta yang terkenal dan termasyhur (icon kota Banda
Aceh) di Aceh ini sekarang diletakkan di Musium Aceh, Banda Aceh.
Lonceng yang dibawa oleh Cheng Ho ini adalah pemberian Kaisar
Tiongkok, pada abad ke-15 kepada Raja Pasai.
▪ Pembangunan masjid Baiturrahman ini dilaksanakan oleh seorang
pemborong atau kontraktor Tionghoa yang bernama Lie A Sie.. Para pekerjanya-pun hampir
sebagian besar terdiri dari pekerja orang Tionghoa
▪ Jaman Orba (Suharto) adalah masa-masa yang gelap dalam sejarah
komunitas Tionghoa di Aceh. Pada 8 Mei 1966, Pangdam Aceh Brigjen
Ishak Djuarsa (orang Sunda, bukan Aceh) mengumumkan untuk mengusir
semua warga Tionghoa dari Aceh sebelum 17 Agustus 1966
▪ demo-demo anti Tionghoa sampai sekarang tidak
cukup untuk mematahkan dominasi Tionghoa dalam perekonomian setempat
▪ Akibat
sentimen anti Tionghoa yang keras pada saat itu banyak warga Tionghoa
meninggalkan Aceh
sekitar 60% pertokoan di Banda Aceh milik warga
Tionghoa). Tidak semua warga Tionghoa itu ekonominya berkecukupan
atau kaya di Banda Aceh, warga Tionghoa yang miskin-pun dapat
dijumpai disana
▪ Aceh
dikenal dengan singkatan sebagai (A)rab, (C)ina, (E)ropah, (H)
industan atau India.


Kesimpulan:
Aceh sejak jaman dahulu kala (sekitar abad ke-13) telah menjadi rumah bagi komunitas Tionghoa dan seiring dengan berjalannya waktu masyarakat Tionghoa telah memberi banyak sumbangan dan memegang peranan yang cukup penting dalam berbagai aspek kehidupan (terutama aspek ekonomi) masyarakat Aceh.

Fakta bahwa masyarakat Tionghoa telah ada sejak lama di Aceh juga menimbulkan kemungkinan yang sangat besar akan adanya percampuran budaya baik berupa asimilasi maupuan akulturasi dengan budaya setempat.

Meskipun sempat beberapa kali mengalami berbagai hal yang tidak menyenangkan dari penduduk setempat, masyarakat Tionghoa tetap mampu bertahan, bahkan dapat dikatakan cukup mendominasi dalam perekonomian Aceh.

Oleh karena itu, sangatlah besar kemungkinan adanya pengaruh budaya Tionghoa dalam label jamu Jakula, bahkan mungkin pemilik dari Tenaga Tani Farma (produsen Jamu Jakula) berasal dari etnis Tionghoa.

Demikian kesimpulan yang kami peroleh dari artikel tersebut.

Bibliography: http://www.budaya-tionghoa.org/modules.php?name=News&file=print&sid=506