
bibliography:
http://www.nyonyameneer.com/indonesia/tentang-jamu-pembuatan.php
Kami enam orang asix yang suka berfantasi yang asix-asix... We are the FantASIX six!!!!!!

Label Jakula generasi kedua
Label Jakula saat ini
Adapun fungsi yang tertera pada kemasan modern saat ini adalah sebagai berikut:

Keterangan: Data berikut ini, walaupun bukan menyangkut budaya Aceh, namun data ini cukup menarik karena ternyata masyarakat Minangkabau gemar menggunakan motif tumbuhan. Hal ini mengingatkan kami pada hiasan tumbuhan yang terdapat di label JAKULA.. Hal ini mungkin dikarenakan letak Aceh dan Sumatera Barat (Minangkabau) yang cukup dekat.
KHASANAH BUDAYA NUSANTARA – Mengenal budaya Minangkabau
BENTUK DASAR RAGAM HIAS MINANGKABAU
Sebagaimana juga halnya dengan cabang-cabang seni (seni rupa) yang lain, seni ukir Minangkabau berorientasi pada alam. Seluruh motif, ukiran yang diciptakan dikembalikan pada sifat gejala dan bentuk alam.
Bentuk-bentuk alam yang dijadikan motif ragam hias tidak diungkapkan secara realistis atau naturalistis, tetapi bentuk-bentuk tersebut distilasi menjadi motif-motif dekoratif ornamentik.
Nama-nama motif ragam hias Minangkabau dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu:
1. Nama Tumbuhan
Bentuknya tidak selamanya dapat disesuaikan dengan bentuk visual motifnya dan tidak selamanya motif itu mencerminkan bentuk yang sesuai dengan namanya. Beberapa nama yang cukup menonjol yang berasal dari nama tumbuhan antara lain; Aka Bapilin (Akar Berjalin), Aka Barayun (Akar Berayun), Aka Taranang (Akar Terapung), Bungo Palo (Bunga Pala), Bunga Matoari (Bunga Matahari), Kaluak Paku (Lengkung Pakis), Pucuak Rabuang (pucuk Rebung), dll.
2. Nama Binatang
Nama-nama motif yang berasal dari nama-nama binatang mencapai jumlah 21 motif (tidak disebutkan apa saja motifnya), diambil dari nama-nama binatang yang terdapat dalam lingkungan Minangkabau sendiri. Motif-motif ini juga tidak langsung terlihat seperti bentuk-bentuk binatang itu sendiri. Motifnya pun mirip dengan motif-motif yang berasal dari tumbuhan. Contohnya antara lain; Ayam Mancotok dalam Kandar (ayam mematuk dalam kandang), Bada Mudiak (Ikan Berenang Beriringan ke Hulu) dsb.
3. Nama Benda dan Manusia
Nama benda yang dipakai antara lain; Aie Bapeso (air berputar), Ati-ati (bentuknya menyerupai hati), Kipeh Cino (kipas Cina) dan masih banyak lagi yang lainnya. Jumlah motif ini mencapai 31 buah, diantaranya juga terdapat nama manusia sepertoi Ambun Dewi, Si Ganjua Lalai (nama gadis) dll.
ARTI YANG TERKANDUNG PADA MOTIF RAGAM HIAS MINANGKABAU
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, ragam hias Minangkabau mengambil motif dengan meniru alam. Sifat ini juga berlaku pada sendi-sendi kehidupan masyarakat. Sifat-sifat dan tingkah laku alam tersebut dituangkan pada kata-kata adat yang dituangkan turun temurun sebagai pengetahuan yang berguna bagi pengaturan kehidupan dan perilaku masyarakat.
Pada ragam hias motif Minangkabau, namyak motif yang dihubungkan dengan kata-kata adat yang mengatur perilaku kehidupan manusia. Para ahli ukir jaman dahulu rupanya berusaha untuk mengabadikan atau memvisualisasikan kata-kata adat tersebut ke dalam bentuk-bentuk ukiran dengan harapan bahwa motif tersebut akan menggugah dan mengingatkan para penikmatnya akan nasehat-nasehat yang terkandung di dalamnya.
Motif yang sulit dikenali karena nama dan bentuk visualnya yang tidak mirip agaknya berhubungan dengan adanya larangan agama untuk melukiskan makhluk hidup pada gambar atau ukiran.
Ukiran dan ragam hias Minangkabau berdasarkan adat adalah pembawa pesan-pesan adat, bukan kemauan pribadi senimannya. Hal ini berlangsung ketat. Dengan demikian seni ukir atau motif Minangkabau selain berfungsi sebagai elemen keindahan juga berfungsi sebagai pendidik dan pedoman bagi masyarakat dengan perlambangan dan kata-kata adat yang dikandungnya.
“Andaikata Senjata Tradisional Bisa Bicara (2) – Motif Naga datang dari Cina
Motif-motif ukiran yang tampak pada pada sarung rencong umumnya berkisar pada hiasan ornamental, deformasi burung, kupu-kupu, ular, kepala naga, dsb.
Melihat bentuk rencong seluruhnya yang agak melengkung maka ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa bentuk rencong Aceh berasal dari bentuk “Jambia” yang dipakai oleh bangsa Turki dan bangsa Mogul. Senjata Jambia yang berasal dari kedua bangsa tersebut dibawa oleh pedagang-pedagang Arab yang berkelana di daerah Koromandel (India) untuk kemudian diperdagangkan ketika mereka meneruskan perjalanan ke Aceh pada permulaan abad ke-13. Senjata-senjata tikam yang berasal dari Turki dan dari bangsa Mogul sangat digemari karena terbukti keampuhannya dalam menaklukkan musuh-musuh mereka masing-masing yaitu ketika bangsa Turki menguasai daerah Yunani dan Austria; dan bangsa Mogul menguasai India Utara pada permulaan abad ke-16. Senjata-senjata itu dibubuhi tulisan-tulisan kaligrafis dari ayat-ayat Al Qur’an, yaitu pada kedua belah mata pisau. Namun demikian sesuai dengan daerah-daerah di Aceh (seperti Aceh Tengah atau Aceh Gayo,Aceh Selatan dan lainnya) yang menunjukkan perbedaan-perbedaan etnis, maka bentuk rencong yang berasal dari daerah-daerah itu juga agak berbeda satu dengan yang lainnya. Misalnya saja, selain ada bentuk rencong neupucok, ada juga rencong meukurer ataupun rencong pudoi yang bentuk hulu berukirannya berbeda sekali dengan yang lain.
Ukiran-Ukiran Pada Rencong dan Sarungnya
Berlainan dengan maksud dari motif-motif ukiran yang terdapat pada hulu dan sarung keris yang didasarkan atas kepercayaan pada kharisma perlambangan dan disesuaikan dengan pribadi atau akhlak calon pemilik (pemakai), maka motif-motif yang ditatahkan pada hulu dan dan sarung rencong dibuat atas kehendak atau menurut selera si pemakai sendiri. Misalnya: motif gambar (ayam) jago lebih disukai oleh golongan lelaki yang suka menampilkan sifat keberanian dan kejantanan, sedangkan motif kupu-kupu disukai oleh golongan wanita yang juga mengenakan rencong sebagai pelengkap kostum, atau bilamana mereka ini ikut berjuang dalam pertempuran.. Dengan masuknya kebudayaan Tiongkok di kalangan masyarakat Aceh setelah tahun-tahun 1406, 1415 dan 1431 bagian Aceh Utara dikunjungi oleh seorang utusan dari Kaisar Cina yaitu Cheng-Ho dengan pengikut-pengikutnya dan kemudian menyusul utusan bernama Ma-Huan yang mengunjungi Aru, Nago, Litai dan Lampoli, dengan membawa barang-barang keramik dan porselen Cina, bahan sutera yang bergambar motif naga dan lainnya, maka lambat laun motif naga sebagai lambang kekuasaan dan kejayaan raja juga mulai digemari oleh golongan bangsawan Aceh.
Ukiran-ukiran lain yang terdapat pada hulu rencong merupakan gambar daun-daunan, bunga rantai atau figura-figura geometris yang dibuat secara halus melingkari bagian atas dan bawah dari hulu. Kadang-kadang ukiran semacam itu dibuat pada lapisan emas sebagai pembungkus hulu dan sarung rencong yang dibubuhi bermacam-macam batu permata seperti batu Zamrud, mirah, safir dan intan. Jenis rencong ini kebanyakan dimiliki oleh golongan bangsawan dan hartawan di wilayah Aceh. Kadang-kadang terdapat pula angka-angka yang menunjukkan tahun-tahun kemenangan dalam pertempuran perang Aceh pada bagian hulu atau bagian pangkal dari mata rencong. Ukiran-ukiran atau tatahan-tatahan pada kedua belah mata rencong yang terdiri dari bengkuwang rencong di bagian pangkal dan di bagian batang rencong dinamakan “reukung-reungsuk” dan bersifat sederhana. Di bagian pertengahan atau bagian perut rencong ada tatahan berupa tulisan kaligrafi huruf-huruf Hidayah yang bersumber pada kata-kata dari ayat-ayat Al Qur’an atau sebagian dari kalimah Syahadat.
Dari semua itu dapat ditarik kesimpulan bahwa unsur-unsur kebudayaan Islam berpengaruh lebih besar pada falsafah hidup rakyat Aceh daripada pengaruh kebudayaan dari Tiongkok maupun Eropa yang juga diintroduksikan dalam sistem pendidikan mereka.
Dalam perkembangan seni ukiran yang diterapkan pada pembuatan perhiasan emas dan perak, para seniman Aceh lebih cenderung untuk menciptakan motif-motif ornamental dari lingkungan alam (flora dan fauna) yang dikombinasikan dengan figura-figura geometris.
Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) menemukan 15 merek produk obat kuat afrodisiak--obat untuk meningkatkan libido pria-- ilegal yang mengandung bahan kimia obat keras Sildenafil Sitrat.
Kepala BPOM H Sampurno di Jakarta, Senin (29/8), mengatakan, produk obat kuat tersebut banyak ditemukan dan diperjualbelikan di pasar-pasar Jakarta, seperti Pasar Pramuka, Pasar Jatinegara, Pasar Rawa Bening dan Pasar Muara Karang.
Produk itu diperjualbelikan dengan merek dagang Jamu Sehat Pria Seksi, Jamu Pasihot, Tablet Cobra Laut, Tablet Pas Tipas, Busur Perkasa, X-Mas, Pegasus Kuda Terbang, Spider, Scorpion, Vi-Gra, Pastigra, Kuda Mas, Spontan-On, Bali-Bali (PJ Madura Sakti) dan Bali-Bali (PJ Jaya Makmur) itu.
"Produk itu dicampur dengan Sildenafil Sitrat yang tidak bisa dipastikan keseimbangan dan kehomogenan campurannya karena pencampurannya tidak dilakukan secara ilmiah oleh ahli farmasi sehingga beresiko menyebabkan gangguan kesehatan," katanya.
Ia mengatakan, penggunaan bahan kimia yang biasa digunakan untuk pasien disfungsi ereksi itu dalam dosis yang tidak tepat atau tanpa pengawasan dari dokter dapat menyebabkan gangguan penglihatan, gangguan pencernaan (dyspepsia), muntah, sakit kepala, reaksi hipersensitif dan piapism--ereksi berkepanjangan--.
Dijelaskannya pula bahwa bahan kimia tersebut seharusnya tidak boleh digunakan oleh pasien yang sedang dalam terapi nitrat, pasien infark miokard, pasien yang tidak boleh melakukan aktifitas seksual dan pasien yang baru mengalami stroke. "Karena itu kami menyerukan kepada masyarakat luas supaya tidak membeli atau mengonsumsi produk tersebut," ujar Sampurno.
Menurut dia, perbuatan memproduksi dan atau mengedarkan produk yang dicampur dengan baham kimia obat keras tersebut secara ilegal merupakan tindakan pidana dan harus mendapatkan tindakan tegas melalui proses pro-justisia. Oleh karena itu, katanya, BPOM saat ini menurunkan petugasnya ke lapangan untuk mencari dan menyita produk-produk tersebut serta melacak produsen obat kuat yang rata-rata dijual seharga Rp30 ribu hingga Rp45 ribu di pasaran itu.
Sebab nama produsen resmi dari produk obat kuat yang semuanya tidak memiliki izin sarana dan izin registrasi dari BPOM itu kata dia hingga masih dalam penyelidikan. Berdasarkan pengamatan Antara, merek-merek obat kuat ilegal tersebut tidak terlihat pada tampilan (display) obat yang ada di sejumlah kios obat di Pasar Pramuka.
Obat kuat yang kemasannya ditampilkan di displai beberapa toko obat di pasar tersebut umumnya berupa jamu dengan merek Jakula, King Cobra, Mustika Laki, Kuda Sembrani dan Urat Madu. Seorang pemilik toko obat kuat perkasa di Jalan Pramuka juga menyatakan tidak menjual obat kuat dengan merek-merek tersebut. "Nggak ada, beli yang lain saja," katanya ketika ditanya apakah dia menjual obat kuat dengan merek Bali-Bali atau Kuda Mas.
Di bagian lain, Kepala Pusat Penyidikan Obat dan Makanan BPOM Weddy Mallyan menyatakan bahwa obat-obat ilegal semacam itu biasanya memang tidak diperjualbelikan secara terbuka di pasaran. "Kami menemukannya setelah melakukan serangkaian investigasi dan pengujian yang beberapa di antaranya dilakukan berdasarkan laporan atau keluhan dari masyarakat," demikian Weddy.
Sumber : Ant
Penulis : Nik